Sikka, MI– Polres Sikka bersama personel Brimob bergerak cepat mengamankan pasien RSU Santo Gabriel Kewapante setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026).
Sebanyak 56 pasien dewasa dan 15 bayi dievakuasi dari dalam gedung rumah sakit ke tenda darurat yang didirikan di area aman. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi gempa susulan sekaligus memastikan pelayanan medis tetap berjalan.
Personel Polsek Kewapante bersama Kompi 4 Batalyon B Pelopor Maumere mulai berkoordinasi sekitar pukul 08.30 Wita terkait kebutuhan tempat penampungan sementara bagi pasien.
Sekitar pukul 08.45 Wita, personel langsung mendirikan tenda di halaman Unit Gawat Darurat (UGD) RSU Santo Gabriel Kewapante.
Kapolres Sikka AKBP Bambang Supeno menegaskan keselamatan pasien menjadi prioritas utama dalam kondisi darurat tersebut.
“Dalam kondisi darurat seperti ini, keselamatan masyarakat menjadi prioritas. Personel kami bersama Brimob dan pihak rumah sakit bergerak cepat memastikan pasien mendapatkan tempat yang aman sekaligus pelayanan kesehatan tetap berjalan,” kata Bambang, Sabtu (15/8/2026).
Tenda pertama difungsikan untuk mendukung pelayanan UGD dan Neonatal Intensive Care Unit (NICU). Dengan demikian, pelayanan medis tetap dapat diberikan meski pasien harus dipindahkan keluar dari gedung utama.
Penanganan diperkuat sekitar pukul 10.00 Wita. Dua unit tenda tambahan milik Kompi 4 Batalyon B Pelopor dipasang di area jalur evakuasi.
Tenda tersebut diperuntukkan bagi pasien kebidanan dan bayi. Penempatan dilakukan berdasarkan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.
“Penempatan tenda disesuaikan dengan kebutuhan pasien. Ini dilakukan agar masyarakat yang sedang menjalani perawatan tetap mendapatkan pelayanan, sekaligus berada di lokasi yang lebih aman,” ujar Bambang.
Polres Sikka bersama Camat Kewapante dan perwakilan Brimob juga berkoordinasi dengan Direktur RSU Santo Gabriel Kewapante, dr. Joan Puspita Tanumihardja, terkait kondisi pasien serta kebutuhan penanganan lanjutan.
Rumah sakit masih membutuhkan tambahan tenda untuk menampung seluruh pasien. Pihak rumah sakit kemudian berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sikka untuk meminta tambahan dua unit tenda.
Selain mengevakuasi pasien rumah sakit, RSU Santo Gabriel juga menangani dua korban luka akibat reruntuhan di ruang tunggu Pelabuhan L. Say Maumere.
Korban pertama, Suster Dokter Yustina Wela, SSpS, 55 tahun, mengalami tiga luka pada bagian kepala. Korban kedua, Yohana Jaji, 67 tahun, mengalami luka benturan di kepala dan memar pada punggung telapak tangan kanan.
Keduanya diketahui hendak melakukan perjalanan menuju Lembata ketika insiden terjadi akibat gempa.
Setelah seluruh tenda selesai dipasang, pasien dipindahkan ke lokasi sesuai peruntukannya. Pemasangan dan penataan tenda rampung sekitar pukul 11.00 Wita.
Kapolres Sikka memastikan personelnya akan terus berada di lapangan untuk membantu masyarakat terdampak gempa.
“Polri akan terus berada di lapangan untuk membantu masyarakat. Kami juga mengimbau masyarakat tetap tenang, waspada terhadap kemungkinan gempa susulan dan mengikuti arahan petugas,” tegas Bambang.**
