Sofifi, MI - Peta politik Maluku Utara menuju Pemilihan Gubernur 2030 mulai memperlihatkan dinamika baru. Retakan perlahan muncul di lingkar kekuasaan Gubernur Malut, Sherly Tjoanda, di tengah mulai menurunnya tingkat kepuasan dan loyalitas sebagian pendukung politiknya.
Situasi tersebut memunculkan pembacaan baru di kalangan elite politik daerah. Nama Nazlatan Ukhra Kasuba kini perlahan mulai diperbincangkan sebagai figur potensial yang dinilai dapat menjadi penantang serius pada kontestasi Pilgub mendatang.
Menariknya, gejala keretakan itu bukan datang dari oposisi di luar pemerintahan, melainkan dari kelompok yang sebelumnya berada di barisan pemenangan Sherly Tjoanda. Sejumlah elite partai pendukung mulai menyuarakan kegelisahan terhadap pola komunikasi politik dan gaya manajerial pemerintahan yang dinilai mulai menjauh dari basis loyalis awal.
Sinyal paling terbuka datang dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Sekretaris DPW PPP Maluku Utara, Asyhari Usman, secara terbuka melontarkan kritik melalui tulisan berjudul Loyal Saat Perang, Dilupakan Saat Berkuasa.
Tulisan tersebut langsung menjadi perbincangan di ruang publik karena dianggap merepresentasikan keresahan sebagian kelompok pendukung yang merasa mulai kehilangan ruang di dalam lingkar kekuasaan.
Dalam tulisannya, Asyhari menyoroti pola relasi politik yang menurutnya sering kali hanya hangat saat kekuasaan belum diraih. Namun setelah kemenangan tercapai, hubungan emosional dan ruang kebersamaan perlahan menyempit.
“Ketika momentum politik berlangsung, semua pihak dipeluk dalam narasi kebersamaan. Namun setelah kekuasaan terbentuk, ruang kebersamaan itu perlahan menyempit,” tulis Asyhari.
Ia juga menyindir praktik politik yang dinilai kerap melupakan para pendukung setelah kemenangan diraih.
“Asas ‘ingat saat butuh, lupa saat menang’ telah lama mengakar dalam praktik politik Indonesia, termasuk di daerah. Kekuasaan sering kali terlalu sibuk merawat stabilitas elit hingga lupa menjaga perasaan politik para pendukung yang menjadi fondasi kemenangan,” lanjutnya.
Meski tidak menyebut nama secara langsung, publik menilai kritik tersebut mengarah pada pola kepemimpinan Sherly Tjoanda. Terlebih, tulisan itu muncul di tengah meningkatnya pembicaraan mengenai hubungan politik antara pemerintah daerah dan sejumlah partai pendukung yang disebut mulai merenggang.
Bagi sebagian pengamat politik lokal, kritik terbuka dari elite partai pendukung merupakan sinyal penting yang tidak bisa dianggap biasa. Dalam tradisi politik daerah, kritik dari internal koalisi sering kali menjadi penanda adanya ketidakpuasan yang telah lama terpendam.
Di saat hubungan dengan sebagian pendukung mulai menunjukkan jarak, nama Nazlatan Ukhra Kasuba justru mengalami tren peningkatan popularitas dalam percakapan politik masyarakat.
Anggota DPRD Maluku Utara tersebut dinilai berhasil membangun kedekatan emosional dengan masyarakat melalui pendekatan langsung di akar rumput. Aktivitas sosial yang konsisten membuat Nazlatan mulai dikenal luas, khususnya di wilayah Halmahera Utara dan Pulau Morotai.
Di dua daerah pemilihan itu, pengaruh politik Nazlatan disebut terus berkembang. Sejumlah kalangan menilai pendekatan sosial yang dilakukan menjadi faktor utama yang memperkuat citra politiknya di tengah masyarakat.
Langkah-langkah sosial yang dilakukan, mulai dari penyaluran bantuan kemasyarakatan hingga pemberian hewan kurban menggunakan dana pribadi, dianggap berhasil membentuk kesan bahwa dirinya hadir langsung di tengah masyarakat tanpa sekat politik yang terlalu kaku.
Fenomena tersebut mulai memunculkan spekulasi baru menjelang Pilgub 2030. Jika hubungan antara kekuasaan dan partai-partai pendukung terus mengalami ketegangan, maka peluang lahirnya poros alternatif dinilai semakin terbuka.
Sejumlah elite politik di Maluku Utara bahkan mulai membaca kemungkinan terbentuknya konfigurasi politik baru dalam beberapa tahun ke depan. Kondisi itu dinilai sangat mungkin terjadi apabila komunikasi politik di internal koalisi pemerintahan tidak segera diperbaiki.
Dalam politik, kekuasaan memang tidak hanya diuji oleh lawan di luar pagar.
Ancaman terbesar sering kali muncul dari dalam, terutama ketika para loyalis mulai merasa tidak lagi dianggap sebagai bagian penting dari perjuangan yang pernah dibangun bersama.
Situasi yang kini mulai terlihat di Maluku Utara menjadi gambaran bahwa stabilitas politik tidak cukup hanya dijaga melalui kekuatan kekuasaan, tetapi juga melalui kemampuan merawat hubungan emosional dan kepercayaan politik dengan para pendukung.
Jika keresahan itu terus dibiarkan tumbuh, maka bukan tidak mungkin peta politik menuju Pilgub 2030 akan berubah lebih cepat dari yang diperkirakan banyak pihak.
Di tengah kondisi tersebut, munculnya figur alternatif seperti Nazlatan Ukhra Kasuba menjadi dinamika baru yang mulai diperhitungkan. Meski kontestasi masih cukup jauh, percakapan politik di tingkat elite maupun masyarakat mulai menunjukkan bahwa pertarungan menuju 2030 perlahan telah dimulai.

