Bener Meriah, MI– Semangat gotong royong masyarakat Dataran Tinggi Gayo membuahkan hasil. Setelah hampir satu tahun terputus akibat longsor, Jalan dan Jembatan Enang-Enang di Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, akhirnya kembali dapat dilalui.
Yang mengejutkan, pembukaan akses vital tersebut bukan hasil proyek pemerintah, melainkan murni dari swadaya masyarakat. Warga berhasil mengumpulkan dana sekitar Rp1 miliar untuk memperbaiki jalan nasional yang selama berbulan-bulan tak kunjung mendapat penanganan.
Peresmian pembukaan jalur berlangsung penuh haru. Inisiator perbaikan jalan, Sahrial Abadi, tak kuasa menahan air mata saat mengumumkan akses tersebut resmi dibuka setelah proses pengaspalan dan perbaikan jembatan rampung.
"Hari ini jalan resmi kita buka. Proses pengaspalan dan perbaikan jembatan sudah selesai. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu," ujar Sahrial.
Prosesi peresmian turut dihadiri ulama kharismatik Aceh, Tengku Muhammad Yusuf Nasir atau Abiya Jeunib. Pemotongan pita diiringi lantunan doa dan selawat, disaksikan ratusan warga yang memadati lokasi. Tangis haru dan rasa syukur mewarnai momen yang dianggap sebagai kebangkitan masyarakat Gayo setelah lama terisolasi.
Sahrial mengungkapkan, dana swadaya yang terkumpul mencapai Rp1 miliar, seluruhnya berasal dari sumbangan masyarakat tanpa menggunakan anggaran pemerintah, baik APBN, APBA maupun APBK.
Dari jumlah tersebut, sekitar Rp526 juta telah digunakan untuk memperbaiki jalan dan jembatan, sementara sisa dana sekitar Rp555 juta akan dimanfaatkan untuk membangun dinding penahan jalan, fasilitas ibadah, serta sarana pendukung lainnya.
Menurutnya, perbaikan Jalan Enang-Enang bukan sekadar membuka kembali jalur transportasi yang menjadi urat nadi perekonomian masyarakat, tetapi juga menjadi simbol kuatnya solidaritas dan semangat gotong royong warga yang memilih bertindak saat bantuan yang dinantikan tak kunjung datang.
Gerakan swadaya itu bermula pada 26 Mei 2026, ketika masyarakat menyewa satu unit alat berat ekskavator untuk membersihkan material longsor. Langkah tersebut diambil karena warga menilai penanganan pemerintah terhadap akses vital penghubung Dataran Tinggi Gayo dengan kawasan pesisir Aceh berjalan terlalu lambat.
Selama jalur utama terputus, aktivitas masyarakat terpaksa dialihkan melalui rute alternatif Simpang Lancang–Wih Porak yang memiliki jarak tempuh lebih jauh dan kondisi medan yang lebih sulit.**
