Kabupaten Malang, MI - Hasil produksi padi di Kabupaten Malang terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Di tahun 2024 hanya mencapai angka sekitar 403 ribu ton, kemudian pada 2023 berkisar 488 ribu ton, dan 2022 lalu tercatat 501 ribu ton. Sementara 2025, hingga pertengahan tahun produksinya belum mencapai peningkatan untuk memenuhi target.
Menurut Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang Avicenna Medisica Saniputera menyampaikan,”bahwa target produksi Gabah Kering Panen (GKP) pada Januari-Mei lalu dipatok sampai 200 ribu ton. Namun realisasinya masih 185 ribu ton, sehingga belum memenuhi target. Oleh karena itu, saat ini aktivitas tanam dan panen di Kabupaten Malang masih terus berjalan,” paparnya. Kamis, (16/7/2026).
Avicenna juga menegaskan,”mengenai hasil panen terdapat tiga kendala utama yang membuat produksi padi belum mencapai target. Yakni dampak cuaca ekstrem, banyak terjadi anomali cuaca, dan ada perubahan alih komoditas dari yang sebelumnya padi menjadi jagung maupun tanaman hortikultura lainnya. Kami harapkan, akhir tahun ini target produksi bisa tercapai,” tegasnya.
Dilanjutkannya,”sejak 2025 produksi padi ditarget sekitar 413 ribu ton. Dengan demikian, produksi padi masih kurang 228 ribu ton. Kami menggerakkan program demplot padi di 10 lokasi. Yakni di Ngajum, Lawang, Wagir, Ngantang, Tajinan, Karangploso, Turen, Gondanglegi, Bululawang dan Pagak,” urainya.
Pada setiap lokasi memiliki luas 2 hektare. Sehingga jika ditotal ada 20 hektare yang akan dikembangkan untuk program demplot padi. Melalui program tersebut, kelompok tani akan menerima bantuan benih, pestisida, sewa alat, dan upah kerja harian.
Selain itu, terdapat beberapa cara lain untuk mencapai target produksi padi. Di antaranya intensifikasi produk dengan menggunakan bibit unggul. Pihaknya akan mendorong petani untuk percepatan tanam. Sedangkan bagi yang sudah panen, akan didorong untuk segera mengolah lahannya.
Avicenna juga mengatakan,”pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan) dari kelompok tani juga dimaksimalkan. Secara teknis, lanjutnya, pengaturan irigasi perlu dilakukan, utamanya saat musim kemarau. Kalau musim hujan, irigasi memang tidak masalah. Tapi saat kemarau harus mulai diantisipasi. Kami mengajak kelompok tani untuk melakukan pemeliharaan irigasi,” pungkasnya. (Rina Sugeng Yuliani)
