Muna Barat, MI – Founder Literasi Muna Barat (Mubar), Rasmin Jaya, menyerahkan karya bukunya berjudul “Transformasi dan Wacana di Era Disrupsi” kepada Bupati Muna Barat, La Ode Darwin. Karya tersebut diharapkan menjadi bagian dari kontribusi pemuda dalam memperkuat budaya literasi sekaligus memberikan gagasan bagi pembangunan daerah.
Penyerahan buku berlangsung di Kantor Bupati Muna Barat, Senin (10/8/2026). Dalam kesempatan tersebut, La Ode Darwin mengapresiasi langkah Rasmin Jaya yang dinilainya menjadi bukti bahwa generasi muda daerah mampu menghasilkan karya intelektual yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Saya sangat bangga ada anak daerah yang berinovasi lewat karya, apalagi sampai menulis dan menciptakan sebuah buku. Ini bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda sekaligus menjadi rekomendasi gagasan untuk pembangunan menuju Liwu Mokesa,” tegas La Ode Darwin.
Menurutnya, pembangunan daerah tidak hanya membutuhkan pembangunan infrastruktur, tetapi juga penguatan sumber daya manusia (SDM). Karena itu, gerakan membaca, berdiskusi dan menulis dinilai perlu terus didorong agar generasi muda tidak berhenti sebagai penonton, tetapi mampu mengambil peran dalam pembangunan.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi seluruh elemen masyarakat untuk mewujudkan pembangunan Muna Barat yang berkelanjutan.
“Mengharapkan pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat yang terus berkesinambungan perlu ada keterlibatan aktif semua pihak dan kolaborasi agar Liwu Mokesa bisa kita wujudkan bersama,” ujarnya.
La Ode Darwin juga menilai perjuangan generasi muda tidak selalu harus dilakukan melalui aksi di ruang publik. Gagasan, tulisan dan karya intelektual juga merupakan bentuk perjuangan yang dapat memberikan dampak jangka panjang bagi daerah.
“Kita berharap ke depan bisa lahir penulis-penulis baru dan terus membudayakan literasi agar bisa menjadi instrumen untuk terus mencerdaskan generasi dan mengubah tatanan sosial kemasyarakatan,” katanya.
Sementara itu, Rasmin Jaya mengatakan pemerintah daerah memiliki posisi strategis dalam membangun ekosistem literasi. Menurutnya, dukungan pemerintah tidak sebatas pada penyusunan kebijakan dan regulasi, tetapi juga mencakup pengembangan perpustakaan serta penyediaan bahan bacaan yang mudah diakses masyarakat.
“Saya sangat menyambut baik apresiasi dan dukungan dari Bupati Muna Barat yang mendorong kita terus berkarya dan menciptakan terobosan agar bisa bermanfaat untuk daerah dan masyarakat,” ujar Rasmin.
Ia menilai pemerintah daerah dapat berperan sebagai fasilitator sekaligus dinamisator dalam meningkatkan budaya literasi masyarakat, termasuk dalam menghadapi tantangan era digital.
Penguatan literasi digital, kata dia, menjadi semakin penting di tengah derasnya arus informasi yang berpotensi memunculkan penyebaran informasi palsu atau hoaks.
“Penguatan literasi dan gerakan gemar membaca harus menjadi perhatian bersama. Ini penting untuk mengurangi kemiskinan, meningkatkan kualitas SDM, serta mendorong daya saing generasi muda,” tegasnya.
Rasmin menjelaskan, buku “Transformasi dan Wacana di Era Disrupsi” lahir dari pergulatan pemikiran terhadap berbagai dinamika sosial, politik dan demokrasi yang berkembang di ruang publik. Ia berharap gagasan yang dituangkan dalam buku tersebut dapat menjadi bahan refleksi sekaligus masukan bagi para pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan pembangunan.
Ia juga menyoroti kondisi budaya literasi di kalangan mahasiswa yang menurutnya menghadapi tantangan serius akibat derasnya arus informasi, perkembangan teknologi, globalisasi dan modernisasi.
Menurutnya, mahasiswa harus kembali menjalankan peran sebagai agen perubahan dengan membangun kemampuan membaca realitas sosial secara kritis, objektif dan komprehensif.
“Mahasiswa tidak hanya cukup kuliah saja, tetapi harus memikirkan pasca kuliah. Keluar dari kampus mau ke mana dan harus seperti apa. Olehnya itu, mahasiswa perlu mengisi dirinya dengan organisasi sebagai proses menghadapi tantangan yang lebih besar ke depan agar lebih berdampak pada masyarakat dan daerah yang ia cintai,” ungkapnya.
Rasmin menegaskan, modernisasi tidak boleh membuat budaya membaca dan tradisi berpikir kritis ditinggalkan. Baginya, literasi merupakan investasi pengetahuan yang dapat melahirkan ide, gagasan dan karya untuk menjawab berbagai persoalan masyarakat.
Ia juga mendorong mahasiswa dan generasi muda untuk tidak sekadar menjadi konsumen informasi, tetapi mampu menghasilkan gagasan dan karya yang memberikan nilai tambah bagi daerah.
Dalam kesempatan itu, Rasmin turut menyampaikan dukungannya terhadap program strategis Bupati Muna Barat La Ode Darwin melalui tagline “Menuju Liwu Mokesa” atau Kampung Bagus.
Ia mengatakan generasi muda harus mengambil posisi sebagai mitra kritis sekaligus strategis pemerintah daerah agar gagasan dan program yang lahir dari kalangan pemuda dapat diaktualisasikan menjadi kerja nyata.
“Sebagai generasi muda kami mendukung serta ingin menjadi bagian dari mitra kritis dan strategis pemerintah daerah agar gagasan, ide dan program dari pemuda bisa teraktualisasi menjadi bentuk yang konkret,” tegas Rasmin.
Ia menambahkan, geliat pembangunan di bawah kepemimpinan La Ode Darwin mulai dirasakan masyarakat. Menurutnya, hal tersebut menjadi tantangan tersendiri di tengah kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan pemerintah.
Rasmin menilai kemampuan pemerintah daerah melakukan lobi dan negosiasi dengan pemerintah pusat menjadi salah satu langkah penting untuk memastikan alokasi anggaran dan berbagai program pembangunan tetap dapat diarahkan ke Muna Barat.
Dengan demikian, menurutnya, kolaborasi pemerintah daerah dan masyarakat, khususnya generasi muda, perlu terus diperkuat agar berbagai potensi daerah dapat dimaksimalkan untuk mendorong pembangunan berkelanjutan dan pemerataan kesejahteraan masyarakat.
