BREAKINGNEWS

Rasmin Jaya: Konferda I PA GMNI Sultra Jadi Momentum Merekatkan Barisan Marhaenis

Rasmin Jaya: Konferda I PA GMNI Sultra Jadi Momentum Merekatkan Barisan Marhaenis
Ketua DPC GMNI Kendari 2023-2025, Rasmin Jaya (Foto: Istimewa)

Kendari, MI - Persatuan Alumni (PA) GMNI Sulawesi Tenggara menggelar Konferensi Daerah (Konferda) I di Kendari, Sabtu (15/8/2026). Forum tersebut dinilai menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali khitah perjuangan GMNI, Marhaenisme, dan nasionalisme tanpa meninggalkan akar ideologis maupun kultur daerah.

Ketua DPC GMNI Kendari 2023-2025, Rasmin Jaya, mengatakan Konferda PA GMNI Sultra tidak semestinya berhenti sebagai agenda seremonial. Forum ini harus menjadi ruang konsolidasi sekaligus merumuskan arah perjuangan organisasi ke depan.

‎Menurut Rasmin, momentum tersebut juga penting untuk memperkuat barisan marhaenis dan nasionalis di Sulawesi Tenggara. Konsolidasi, kata dia, tidak cukup hanya dilakukan di tingkat alumni, tetapi harus menyentuh anggota dan kader hingga akar rumput.

“Harus lepas dari ego sektarian, embel-embel primordial serta mengedepankan rasa kebersamaan, solidaritas dan kekompakan yang menjadi nyawa dari pada GMNI itu sendiri yakni gotong royong,” ujar Rasmin.

Ia berharap PA GMNI Sultra di era baru dapat memperluas spektrum perjuangannya. Organisasi alumni tidak boleh hanya untuk kepentingan sesaat atau segelintir pihak, tetapi harus mampu menjadi penggerak transformasi bangsa, khususnya di Sulawesi Tenggara.

Rasmin menilai, Alumni GMNI sedang menapaki jalan panjang perjuangan ke depan. Karena itu, diperlukan upaya untuk kembali merintis, merekatkan yang jauh, serta mengombinasikan seluruh sumber daya dari berbagai disiplin keilmuan. Semua itu diharapkan menjadi tangga, estafet, sekaligus ruang regenerasi kepemimpinan ke depan yang berorientasi pada kebermanfaatan.

‎“Ini tentang regenerasi, kepemimpinan dan masa depan. Sebab ada tugas dan tanggung jawab moral, ideologi, organisasi, dan sejarah yang kita pikul. Apalagi forum tersebut dirancang bukan sebagai acara seremonial, melainkan ruang tukar gagasan, merumuskan langkah langkah ke depan dengan segala program,” katanya.

Menurutnya, momentum Konferda Persatuan Alumni GMNI Sultra tidak boleh dianggap sekadar seremonial atau penggugur tanggung jawab yang terlewat begitu saja, tetapi harus benar-benar terpatri dalam jiwa setiap insan Marhaenis, kader, dan alumni secara umum.

Rasmin menyebut, berjuang dengan pamrih, penuh konsistensi, dedikasi, dan tanpa kenal lelah menjadi bentuk pengabdian nyata yang lahir dari rasa cinta.

‎Alumni GMNI Sulawesi Tenggara telah melewati pasang surut. Ada dinamika, gejolak, suka duka, pilihan sulit, hingga apa pun itu namanya, tetapi tak pernah sedikit pun pasrah.

Suara-suara telah diteriakkan dan panji merah telah dikibarkan. Harapan terus melambung tinggi. Berkali-kali persatuan dijahit dengan penuh lirih. Kata demi kata menjadi ungkapan hati yang penuh harap tentang kebaikan GMNI ke depan.

Tetapi akan menjadi sebuah ironi jika organisasi yang lahir dari semangat nasionalisme dan cita-cita Marhaenisme, yang mengajarkan persatuan, keberanian, dan kesetiaan kepada rakyat kecil, justru kehilangan khitah perjuangan dalam refleksi perjalanan yang sudah sejauh ini.

‎‎Forum ideologis tersebut harus terus menjadi kawah candradimuka untuk membentuk karakter pemimpin dan mengisi ruang pengabdian di berbagai sektor strategis. Tak kalah penting, forum ini juga harus mampu merumuskan langkah-langkah perjuangan ke depan yang krusial dan strategis.

Rasmin mengatakan setiap kader tentu merindukan kejayaan dan kemenangan. Menurutnya, ada masa ketika semua kader bisa berdaya, tetapi untuk sampai ke titik itu dibutuhkan proses panjang karena tidak ada yang instan.

‎“Semua harus diperjuangkan dan diusahakan dengan baik,” ujar Rasmin.

Ia menegaskan, kader maupun alumni tidak cukup hanya mencari pengakuan. Mereka harus menjalankan amanat ideologi, tanggung jawab organisasi, serta tuntutan sejarah dengan terus memberi kontribusi bagi kemajuan daerah, khususnya Sulawesi Tenggara.

‎Hal itu, kata dia, harus dimulai dari kesadaran moral bahwa GMNI bukan milik segelintir pihak, melainkan milik seluruh kader yang masih percaya bahwa api nasionalisme dapat menjadi benang yang merajut perbedaan. Sementara Marhaenisme tetap menjadi asas perjuangan yang relevan mengikuti perkembangan zaman.

‎“GMNI tetap menjadi lokomotif, pelopor dan kawah candradimuka bagi setiap insan Marhaenis, pejuang pemikir dan pemikir pejuang,” ucapnya.

Menyongsong hajatan besar tersebut, Rasmin menyebut masih banyak harapan dan impian yang belum terwujud. Namun, semuanya terus bergerak seperti gayung bersambut, menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Menurutnya, tanggung jawab Marhaenis sejati adalah terus bekerja dengan pikiran, hati, dan jiwa yang ikhlas. Di saat yang sama, setiap kader juga harus terus belajar untuk menyiapkan bekal menghadapi masa depan.
‎‎
‎“Ketika momentum, peluang dan kesiapan bertemu dalam satu titik, itu menjadi sesuatu yang tak bisa kita lewatkan,” imbuhnya.

Ia mengajak seluruh pihak menyambut momentum tersebut dengan nuansa kekeluargaan. Bagi Rasmin, hal itu menjadi bagian dari upaya bersama merawat ingatan dan menolak lupa pada rasa cinta kepada GMNI dan Ibu Pertiwi.

“Cinta yang terus hidup di setiap diskusi. Menyalakan harapan adalah tanda bahwa kita memiliki prospek masa depan,” kata dia.

Rasmin menilai orientasi dan tujuan PA Alumni GMNI Sulawesi Tenggara ke depan harus terukur, jelas, tepat sasaran, dan memberi dampak nyata. Menurutnya, ujian independensi akan selalu ada, termasuk godaan kepentingan praktis yang bisa menyeret organisasi ke dalam pusaran tertentu.

Karena itu, momentum tersebut harus menjadi ruang untuk kembali mengingatkan para alumni tentang pentingnya raison d'etre atau alasan sebuah keberadaan.

‎“Ikatan ideologilah yang mempersatukan alumni GMNI dalam wadah PA GMNI. Dengan demikian, makin kuatlah tertanam alasan kenapa kita harus berkumpul dan bertemu dalam satu wadah organisasi PA GMNI,” tuturnya.

‎Konferda PA Alumni GMNI Sultra diharapkan dapat melahirkan pemikiran-pemikiran strategis terkait peran alumni GMNI ke depan.

Sebagai rumah besar kaum nasionalis dan Marhaenis, Rasmin memandang Persatuan Alumni GMNI harus berada di barisan terdepan dalam merawat nasionalisme yang setia kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Selain itu, organisasi juga harus terus memperkuat persatuan dan kesatuan serta memperkokoh kedaulatan bangsa.

‎Sebagai organisasi perjuangan, kata dia, setiap alumni GMNI tidak hanya dituntut untuk berjuang dan berpihak pada kepentingan rakyat, tetapi juga turun bersama rakyat melawan berbagai bentuk penindasan.

“Merdeka. GMNI Jaya, Marhaen Menang,” tutupnya.‎

Topik:

Rolia Pakpahan

Penulis

Video Terbaru

Rasmin Jaya: Konferda I PA GMNI Sultra Jadi Momentum Merekatkan Barisan Marhaenis | Monitor Indonesia