Pontianak, MI— Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat (Kalbar) kembali meningkat. Sekitar 360 titik api terdeteksi tersebar di berbagai wilayah provinsi tersebut di tengah kondisi kemarau yang masih berlangsung.
Wakil Gubernur Kalbar Krisantus Kurniawan meminta masyarakat tidak meremehkan setiap kemunculan titik api. Menurutnya, kondisi lahan yang kering membuat api berpotensi cepat meluas.
Krisantus menyampaikan peringatan itu saat meninjau sekaligus menyerahkan bantuan kepada warga terdampak kebakaran di Sungai Duri, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Bengkayang, Sabtu (22/8/2026).
“Kita perlu kerja sama dan kewaspadaan semua pihak. Kalau ada titik-titik api segera laporkan,” kata Krisantus, dikutip Minggu (23/8/2026).
Ia menyebut kebakaran dalam waktu berdekatan terjadi di sejumlah wilayah, antara lain Ketapang, Jeruju, dan Segedong. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa potensi kebakaran masih tinggi dan membutuhkan respons cepat.
BPBD Kalbar kini terus memantau ratusan titik api yang berpotensi menyebar. Pemerintah daerah mengingatkan titik api yang dibiarkan dapat berkembang menjadi karhutla besar.
“360 titik api tersebar di seluruh penjuru Provinsi Kalbar. Ini ada kemungkinan akan membesar, tetapi BPBD kami terus melakukan pemantauan terhadap titik-titik api yang berpotensi menyebar,” ujar Krisantus.
Krisantus menegaskan ancaman kebakaran selama kemarau tidak hanya datang dari kawasan hutan dan lahan. Permukiman serta kawasan perdagangan juga berada dalam risiko tinggi.
Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran sampah sembarangan. Sumber api dari aktivitas rumah tangga juga harus diawasi ketat.
Kompor harus dipastikan dalam kondisi aman setelah digunakan. Begitu pula instalasi listrik dan kabel di rumah maupun tempat usaha yang berpotensi menjadi pemicu kebakaran.
“Kalau sudah menyalakan api, segera dimatikan. Kompor selalu dijaga. Kemudian, kabel-kabel listrik juga harus diperhatikan karena ini bisa menjadi pemicu utama terjadinya kebakaran,” tegasnya.
Selain ancaman kebakaran, pemerintah juga mewaspadai dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat.
Anak-anak menjadi kelompok yang harus mendapat perhatian khusus apabila kualitas udara memburuk akibat asap karhutla.
Krisantus bahkan membuka kemungkinan kegiatan belajar mengajar dihentikan sementara jika paparan asap sudah berada pada tingkat yang membahayakan.
“Kalau sudah cukup membahayakan, saya pikir sekolah juga harus kita liburkan karena sangat berbahaya bagi kesehatan anak-anak kita yang ada di sekolah,” ujarnya.**
