Pekanbaru, MI - Karhutla di Riau belum juga mereda. Hingga 21 Agustus 2026, luas lahan yang terbakar sudah mencapai 16.264 hektare di 12 kabupaten/kota.
Pemadaman di lapangan tidak berjalan mulus. Tim Satgas Karhutla Riau harus menghadapi akses menuju lokasi yang sulit, sumber air terbatas, banyaknya bahan yang mudah terbakar, serta angin kencang.
“Di lapangan, tim menghadapi kesulitan akses yang sulit, sumber air minim, bahan bakar potensial banyak dan angin kencang,” kata Kepala BPBD dan Damkar Provinsi Riau Edy Afrizal, Sabtu (22/8/2026).
Masalah makin rumit karena sebagian titik berada di kawasan gambut yang cukup dalam. Api yang masuk ke lapisan gambut membuat proses pemadaman jauh lebih sulit.
“Gambut cukup dalam sehingga agak sulit dipadamkan oleh tim Satgas Karhutla gabungan,” ujarnya.
Kabupaten Bengkalis menjadi wilayah dengan karhutla terluas, mencapai 8.407 hektare. Berikutnya Kabupaten Pelalawan 4.629 hektare, Indragiri Hilir 872 hektare, Dumai 556 hektare, Indragiri Hulu 535 hektare, Rokan Hilir 452 hektare, Siak 314 hektare, Kampar 126 hektare, Kuantan Singingi 68,98 hektare, Pekanbaru 67,18 hektare, dan Rokan Hulu 32,46 hektare.
Sejumlah titik masih menjadi fokus penanganan, termasuk Kerumutan di Pelalawan, Rimbo Panjang dan Tapung di Kampar, serta Tenayan Raya di Pekanbaru.
Untuk mengejar titik api dari udara, delapan helikopter dikerahkan. Tujuh di antaranya milik BNPB dan satu milik Kementerian Kehutanan.
Pemerintah Provinsi Riau juga mengerahkan 17.764 personel gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, pemerintah daerah dan unsur lainnya.
