Polewali Mandar, MI– Krisis jumlah peserta didik kembali menghantam sekolah dasar negeri di daerah. SDN 023 Todang-Todang, Kecamatan Limboro, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, hanya menerima dua murid baru pada tahun ajaran 2026/2027.
Demi menjaga sekolah tetap hidup, para guru bahkan rela patungan membeli seragam agar anak-anak bersedia bersekolah.
Hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) berlangsung jauh dari suasana meriah. Tidak ada deretan siswa baru memenuhi ruang kelas. Hanya dua anak yang menjadi harapan sekolah yang kini total memiliki sekitar 20 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6.
Kepala SDN 023 Todang-Todang, Sudarmi, mengatakan kondisi tersebut bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir akibat menyusutnya jumlah penduduk di desa tersebut.
"Siswa baru kami tahun ini hanya dua orang karena jumlah masyarakat di sini memang sangat sedikit. Hanya ada sekitar 50 keluarga. Biasanya warga yang baru berkeluarga memilih merantau ke luar kota untuk mencari nafkah," ujar Sudarmi.
Ironisnya, meski jumlah penduduk terbatas, kawasan tersebut memiliki empat sekolah dasar yang harus berbagi calon peserta didik. Akibatnya, seluruh sekolah mengalami persoalan serupa, yakni kekurangan murid.
"Kondisi di daerah kami memang unik. Banyak sekolah, tetapi penduduknya sedikit. Karena itu di sini tidak berlaku sistem zonasi. Yang mendaftar ya hanya warga yang tinggal di sekitar sekolah," katanya.
Minimnya jumlah siswa membuat proses belajar mengajar harus disiasati. Dari total tiga ruang kelas yang tersedia, beberapa rombongan belajar terpaksa digabung dalam satu ruangan. Bahkan, siswa kelas tertentu harus belajar di ruang kepala sekolah atau ruang kantor karena keterbatasan fasilitas.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan, para guru memilih bertahan. SDN 023 Todang-Todang memiliki 12 tenaga kependidikan yang seluruhnya bukan berstatus PNS. Mereka setiap hari menempuh perjalanan belasan hingga puluhan kilometer demi mengajar di sekolah pelosok tersebut.
Tak hanya itu, para guru juga mengumpulkan uang secara swadaya untuk membeli seragam gratis bagi calon peserta didik sebagai upaya mempertahankan keberlangsungan sekolah.
"Tahun lalu alhamdulillah ada empat siswa, sekarang turun lagi jadi dua. Kami berinisiatif membagikan seragam gratis agar anak-anak mau sekolah di sini. Itu hasil patungan guru-guru," ungkap Sudarmi.
Sudarmi berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat memberikan perhatian lebih terhadap sekolah-sekolah kecil di wilayah terpencil, terutama melalui penambahan ruang kelas dan pemerataan fasilitas pendidikan.
"Harapan saya mewakili para guru, semoga pemerintah dapat membantu pembangunan ruang kelas baru. Kami ingin anak-anak belajar dengan nyaman dan tidak saling mengganggu karena keterbatasan ruangan," ujarnya.**
