Makassar, MI – Kisah pilu menyelimuti tragedi tenggelamnya KM Nurul Salsa di perairan Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Seorang bocah berinisial DY (8) harus bertahan hidup selama empat hari di tengah lautan sambil menyaksikan ibunya meninggal dunia di atas pelampung akibat kelelahan sebelum akhirnya berhasil diselamatkan nelayan.
Peristiwa memilukan itu bermula ketika KM Nurul Salsa tenggelam di perairan sebelah barat Pulau Polasi saat berlayar dari Pulau Jampea menuju Pelabuhan Benteng pada Rabu (15/7/2026). Puluhan penumpang tercebur ke laut dan berjuang menyelamatkan diri dengan pelampung gabus serta benda-benda yang masih mengapung.
DY semula bertahan bersama kedua orang tuanya di atas satu pelampung bersama beberapa penumpang lain. Namun, gelombang tinggi yang terus menghantam membuat rombongan mereka tercerai-berai pada malam pertama.
Ayah DY terpisah oleh arus, sementara bocah itu tetap bertahan bersama ibunya di tengah lautan tanpa makanan maupun air minum. Hari demi hari berlalu, kondisi sang ibu terus melemah akibat kelelahan dan tidak mampu lagi melawan ganasnya ombak.
Puncak tragedi terjadi pada hari ketiga ketika ibu DY mengembuskan napas terakhir di atas pelampung yang mereka tumpangi.
"Nyawanya tidak bisa diselamatkan, sudah tidak mampu bertahan mengapung, kasihan," ujar paman DY, Andi Samad, yang juga selamat dari musibah tersebut.
Dalam kondisi serba terbatas, para penyintas terpaksa melepaskan jenazah korban ke laut karena tidak lagi memiliki tenaga untuk membawa tubuhnya sambil terus berjuang mempertahankan hidup.
Meski kehilangan ibunya, DY tetap bertahan bersama penyintas lainnya. Mereka terus mengapung mengikuti arus selama empat hari sambil berharap ada kapal yang melintas. Berkali-kali mereka berteriak meminta pertolongan, tetapi tidak seorang pun mendengar.
Harapan baru muncul pada hari keempat ketika salah seorang penyintas mengeluarkan cermin kecil dari dalam tasnya. Cahaya matahari dipantulkan ke arah laut sebagai isyarat darurat.
Sinyal itu akhirnya terlihat oleh awak KM Sinar Mattoanging 04 asal Bulukumba yang sedang melintas di Laut Flores. Nelayan segera mengubah haluan dan mengevakuasi para penyintas ke atas kapal.
Setelah proses penyelamatan, anak buah kapal melaporkan penemuan para korban kepada pemilik kapal yang kemudian meneruskannya kepada Basarnas Makassar agar evakuasi dapat dilakukan secara menyeluruh.**
