Mahasiswa Mubar Terbitkan Buku, Rasmin Jaya Kirim “Tamparan Sunyi” bagi Generasi yang Tumpul Literasi

Kendari, MI — Di tengah derasnya arus distrupsi dan kegaduhan ruang publik yang makin bising, seorang mahasiswa asal Muna Barat justru memilih jalan sunyi: menulis.
Namun jangan salah, kesunyian itu bukan tanpa daya—melainkan menjadi pukulan telak bagi generasi yang mulai kehilangan daya pikir kritis.
Rasmin Jaya, sosok muda berlatar aktivis, resmi menerbitkan buku berjudul “Transformasi dan Wacana di Era Distrupsi”. Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan biasa, tetapi potret kegelisahan intelektual yang lahir dari pergulatan panjang antara realitas sosial, dinamika politik, dan stagnasi nalar publik.
Di tengah budaya instan dan minim literasi, Rasmin justru menegaskan bahwa otak tanpa bacaan adalah tubuh tanpa gizi. Ia secara gamblang menyindir kondisi generasi muda yang kian menjauh dari tradisi membaca dan berpikir, hingga berujung pada “kelumpuhan intelektual”.
Tak hanya berhenti pada kritik, buku ini juga menjadi bentuk perlawanan. Rasmin, yang aktif dalam gerakan mahasiswa dan advokasi sosial, memilih pena sebagai senjata baru. Jika sebelumnya lantang di jalanan, kini ia berbicara melalui tulisan—lebih dalam, lebih tajam, dan lebih mengganggu kesadaran.
Berangkat dari desa terpencil di Muna Barat, Rasmin tidak menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti. Justru dari ruang yang jauh dari sorotan, ia membangun gagasan besar tentang perubahan. Ia menulis tentang politik, pendidikan, demokrasi, hingga kegagalan negara menghadirkan keadilan bagi rakyat.
Buku ini lahir bukan dari ambisi popularitas, tetapi dari kegelisahan yang tak menemukan saluran. Rasmin menilai, ketika ruang demokrasi mulai tersumbat, tulisan menjadi satu-satunya cara untuk tetap bersuara.
Lebih jauh, ia juga mengingatkan bahwa kemajuan teknologi yang tak diimbangi literasi hanya akan melahirkan generasi yang mudah terpapar hoaks, konflik, dan polarisasi. Di sinilah, menurutnya, menulis bukan lagi pilihan—melainkan kewajiban moral.
Di tengah kesibukan akademik, organisasi, dan advokasi, Rasmin membuktikan bahwa produktivitas intelektual bukan omong kosong. Ia merampungkan buku ini dengan disiplin, konsistensi, dan komitmen yang jarang dimiliki generasi seusianya.
Pesan yang dibawanya sederhana namun menohok: jika mahasiswa berhenti menulis dan berpikir, maka masa depan bangsa sedang digadaikan.
Buku “Transformasi dan Wacana di Era Distrupsi” menjadi alarm keras—bahwa generasi muda harus bangkit, melampaui zamannya, dan tidak larut dalam kebodohan yang dipelihara oleh kenyamanan.
Topik:
