Pematangsiantar, MI– Sebuah aksi main hakim sendiri yang diduga dilakukan enam anggota organisasi kemasyarakatan (ormas) di Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, berujung tragedi. Seorang pemuda bernama Jaka Malau (24) tewas setelah menjadi korban pengeroyokan brutal, meski belakangan diketahui tidak memiliki kaitan dengan persoalan yang dicari para pelaku.
Kasus yang sempat viral di media sosial itu kini menjadi perhatian publik setelah polisi memastikan korban merupakan salah sasaran.
Dalam video yang beredar luas, tampak sejumlah pria mengeroyok korban di kawasan Taman Bunga, Kota Pematangsiantar. Korban dipukul, ditendang, hingga diinjak secara bergantian di pinggir jalan yang ramai disaksikan warga.
Meski sudah tidak berdaya dan berulang kali terjatuh ke tanah, aksi kekerasan terhadap korban tetap berlanjut. Setelah mengalami luka parah, korban kemudian dimasukkan ke dalam sebuah mobil yang berstiker organisasi kemasyarakatan.
Kasat Reskrim Polres Pematangsiantar AKP Sandi Riz Akbar mengungkapkan peristiwa tersebut terjadi pada 28 Mei 2026. Akibat luka-luka yang dideritanya, korban akhirnya meninggal dunia sehari kemudian saat menjalani perawatan medis.
"Korban ini meninggal tanggal 29 Mei 2026," kata AKP Sandi Riz Akbar.
Hasil penyelidikan polisi mengungkap bahwa sedikitnya enam orang terlibat dalam pengeroyokan tersebut. Seluruh pelaku diketahui merupakan anggota salah satu organisasi kemasyarakatan yang beroperasi di wilayah tersebut.
Dari enam pelaku, dua orang telah berhasil ditangkap polisi pada 31 Mei 2026. Mereka masing-masing berinisial Franky Silaen (30) dan Rohit Panjaitan (24).
Sementara itu, empat pelaku lainnya telah ditetapkan sebagai tersangka dan kini masih menjadi buronan aparat kepolisian.
"Betul, anggota ormas. Empat pelaku lagi sudah kami tetapkan sebagai tersangka dan masih kami lakukan upaya pencarian," ujar Sandi.
Fakta yang paling mengejutkan dalam kasus ini adalah terungkapnya bahwa Jaka Malau bukanlah target yang sebenarnya dicari para pelaku. Korban diduga menjadi sasaran kekerasan akibat kesalahan identifikasi, namun harus membayar mahal dengan nyawanya.
Polisi kini terus memburu empat tersangka yang masih melarikan diri sekaligus mendalami motif dan latar belakang pengeroyokan tersebut. Aparat juga membuka kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat dalam aksi kekerasan yang menyebabkan hilangnya nyawa seorang warga yang diduga tidak bersalah.**

