Kenapa Prof Sofian Tiba-tiba Balik Badan?

BERKALI-KALI sudah saya sampaikan, dengan metode analisis kronologis banyak hal bisa diungkap dengan jernih. Pada ๐ญ๐ฒ ๐๐๐น๐ถ ๐ฎ๐ฌ๐ฎ๐ฑ, mantan Rektor UGM Prof Sofian Effendi memberikan pernyataan yang berbeda sama sekali dari keterangan resmi UGM pada ๐ญ๐ฑ ๐๐ฝ๐ฟ๐ถ๐น ๐ฎ๐ฌ๐ฎ๐ฑ (lihat ๐ด๐ค๐ณ๐ฆ๐ฆ๐ฏ๐ด๐ฉ๐ฐ๐ต terkait).
Pernyataan 16 Juli 2025 dari Prof Sofian Effendi pada intinya menyatakan Joko Widodo ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐น๐๐น๐๐ ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐จ๐๐ , lalu ๐ต๐ฎ๐ป๐๐ฎ ๐บ๐ฒ๐ป๐๐ฎ๐ป๐ฑ๐ฎ๐ป๐ด ๐ด๐ฒ๐น๐ฎ๐ฟ ๐ฆ๐ฎ๐ฟ๐ท๐ฎ๐ป๐ฎ ๐ ๐๐ฑ๐ฎ, dan karena itu ๐๐ธ๐ฟ๐ถ๐ฝ๐๐ถ๐ป๐๐ฎ ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐ป๐ฎ๐ต ๐ฑ๐ถ๐๐ท๐ถ sebagai syarat meraih gelar sarjana (S-1).
Tetapi kurang dari 24 jam kemudian, pada 17 Juli 2025, pernyataan ini dikoreksi oleh yang bersangkutan sebagaimana juga bisa dilihat pada ๐ด๐ค๐ณ๐ฆ๐ฆ๐ฏ๐ด๐ฉ๐ฐ๐ต terkait.
Dengan demikian, sekarang ini baik dari pihak otoritas resmi UGM, maupun mereka yang merupakan bagian keluarga besar UGM (termasuk Sofian Effendi), berada pada barisan keterangan resmi UGM versi 15 April 2025, bahwa:
“๐๐ผ๐ธ๐ผ ๐ช๐ถ๐ฑ๐ผ๐ฑ๐ผ ๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐น๐ฎ๐ต ๐ฎ๐น๐๐บ๐ป๐๐ ๐๐ฎ๐ธ๐๐น๐๐ฎ๐ ๐๐ฒ๐ต๐๐๐ฎ๐ป๐ฎ๐ป ๐จ๐ป๐ถ๐๐ฒ๐ฟ๐๐ถ๐๐ฎ๐ ๐๐ฎ๐ฑ๐ท๐ฎ๐ต ๐ ๐ฎ๐ฑ๐ฎ (UGM). Yang bersangkutan telah melaksanakan seluruh proses studi yang dimulai ๐๐ฒ๐ท๐ฎ๐ธ ๐๐ฎ๐ต๐๐ป ๐ญ๐ต๐ด๐ฌ dengan nomor mahasiswa ๐ด๐ฌ/๐ฏ๐ฐ๐ฐ๐ญ๐ฒ/๐๐ง/๐ญ๐ฒ๐ด๐ญ, dan ๐น๐๐น๐๐ ๐ฝ๐ฎ๐ฑ๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด๐ด๐ฎ๐น ๐ฑ ๐ก๐ผ๐๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฒ๐ฟ ๐ญ๐ต๐ด๐ฑ.”
Keterangan kontroversial Prof Sofian Effendi yang sempat viral beberapa jam itu, memang sewarasnya perlu dicabut. Dan untungnya yang bersangkutan masih waras.
Alasannya? Keterangan itu ๐ค๐ฉ๐ณ๐ฐ๐ฏ๐ฐ๐ญ๐ฐ๐จ๐ช๐ค๐ข๐ญ๐ญ๐บ ๐ช๐ฏ๐ข๐ค๐ค๐ถ๐ณ๐ข๐ต๐ฆ. Begini…
Prof Sofian Effendi jadi rektor UGM antara 2002-2007. Itu artinya, 17 tahun setelah Joko Widodo lulus dari Fakultas Kehutanan UGM. Maka, sebagai rektor UGM, Prof Sofian dipastikan tidak mengenal dan tidak mengetahui sepak terjang sosok mahasiswa yang namanya Joko Widodo— sebab yang bersangkutan sudah lulus 17 tahun sebelumnya!
Rektor yang menandatangani ijazah Joko Widodo adalah Prof. Teuku Jacob (periode 1981-1986), bukan Prof Sofian Effendi (periode 2002-2007). Posisi rektor memang punya kewenangan lintas fakultas untuk berbagai urusan, baik akademik maupun administratif.
Tetapi Sofian Effendi bukanlah Rektor UGM pada saat Joko Widodo masih sebagai mahasiswa antara 1980-1985. Saat itu, ada dimana dia?
Antara 1981-1986, Sofian adalah Direktur Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, UGM. Dari posisi ini, Sofian sama sekali tidak ada kepentingan, juga tidak punya kewenangan apapun, atas urusan akademik maupun administrasi di Fakultas Kehutanan UGM! Itu dua dunia yang beda banget. Tidak ada hubungannya.
Maka, baik antara 2002-2007 (sebagai Rektor UGM), maupun antara 1981-1986 (sebagai Direktur Pascasarjana FISIP UGM), Sofian Effendi tidak punya kaitan akademik dan administratif sama sekali dengan sosok mahasiswa Fakultas Kehutanan (bernomor 80/34416/KT/1681) yang namanya Joko Widodo.
Dengan demikian bisa dipastikan pernyataan kontroversial Sofian Effendi— yang telah dibantahnya sendiri itu— bukan didasarkan pada pengalaman pribadinya secara langsung dengan Joko Widodo.
Tetapi, pasti didasarkan pada informasi pihak ketiga! Pertanyaannya: Mengapa Prof Sofian Effendi membiarkan mulutnya dimanfaatkan oleh pihak ketiga ini?
Sekarang soal gelar Sarjana Muda, yang dilabelkan Prof Sofian Effendi kepada Joko Widodo. Hal ini juga ๐ค๐ฉ๐ณ๐ฐ๐ฏ๐ฐ๐ญ๐ฐ๐จ๐ช๐ค๐ข๐ญ๐ญ๐บ ๐ช๐ฏ๐ข๐ค๐ค๐ถ๐ณ๐ข๐ต๐ฆ. Konteks historisnya sangat ngawur.
Faktanya, UGM mulai menerapkan sistem Satuan Kredit Semester (SKS) pada tahun 1979. Penerapan sistem SKS ini sejalan dengan turunnya SK Mendikbud Daoed Joesoef No. 0124/U/1979.
Mereka yang paham sejarah pergerakan mahasiswa di era1970-an mesti tahu kalau (1)๐๐ถ๐๐๐ฒ๐บ ๐ฆ๐๐ฆ dan (2)๐ธ๐ฒ๐ฏ๐ถ๐ท๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ก๐๐/๐๐๐ (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan) yang arsiteknya memang tokoh CSIS ini, merupakan satu tarikan nafas.
Apa tujuannya? Untuk mengembalikan perguruan tinggi (PT) sebagai komunitas ilmiah. Sejak peristiwa Malari (1974), hingga “pledoi” mahasiwa ITB dengan judul “Indonesia dibawah Sepatu Lars” (1977-78), rezim Orde Baru sulit melaksanakan pembangunan dengan tertib. Kelompok Cipayung terlalu kritis dan terlalu sering bikin onar.
Belum lagi para jenderal seperti AH Nasution, M Yasin, HR Dharsono, AY Mokoginta, Ali Sadikin, juga pada mulai bermanuver politik. Di kemudian hari mereka dikenal sebagai kelompok PETISI 50.
Dari kacamata politik, penerapan sistem SKS dan NKK/BKK ini adalah cara untuk menjinakkan mahasiswa dari "racun" dunia politik. Pada akhirnya, penerapan sistem SKS di seluruh PT di Indonesia— baik negeri maupun swasta— secara resmi dimulai pada tahun 1983.
Tetapi, untuk PT negeri, kurikulum SKS ini sudah diberlakukan sejak tahun 1979. Memang dilakukan secara bertahap. PT swasta seperti Parahyangan, Trisakti, Atma Jaya, baru belakangan, dimulai pada tahun 1983.
Ini artinya, sudah sejak 1979, di berbagai PT negeri, sistem modul yang memang mengenal tahap Sarjana Muda setelah tahun ketiga masa studi, resmi dihapuskan. Digantikan ke program Diploma yang tekanannya lebih vokasional.
Dengan kata lain kualifikasi Sarjana Muda itu ekuivalen dengan Diploma 3, dan memiliki jalur akademik tersendiri. Tidak lagi di jalur bakelorat yang langsung meraih gelar sarjana (sekarang S-1), setelah memiliki sekitar 144-160 SKS.
Dulu, istilah Latin “doktorandus” (ditulis “drs.”) untuk seorang sarjana, itu artinya adalah “calon doktor” sebetulnya.
Gelar saya sebagai sarjana di awal dekade 1990-an, masih ditulis sebagai “drs.” Artinya sebenarnya adalah, saya baru selesai di tahap-1 dari tiga tingkatan studi yang seharusnya.
Dan baru akan tuntas bila saya telah menyelesaikan tingkat doktoral saya (S-3). Itu sebabnya Mohammad Hatta juga gelar akademiknya adalah "drs.", sebab beliau belum menyelesaikan tingkat dokroralnya di Erasmus Universiteit Rotterdam. Gelar "doktor" untuk Hatta itu secara ๐ฉ๐ฐ๐ฏ๐ฐ๐ณ๐ช๐ด ๐ค๐ข๐ถ๐ด๐ข, dari UGM, sejak November 1956.
Maka, siapapun yang mengatakan Joko Widodo hanya studi sampai tingkat Sarjana Muda di tahun 1985, sudah pasti sedang mengacaukan kronologi sejarah sistem pendidikan tinggi di negeri ini. Entah karena miskinnya wawasan, atau sengaja demi pembodohan publik.
Apalagi kalau yang ngomong adalah mantan Rektor UGM yang menyandang gelar guru besar. Itu jelas suatu kebodohan yang amat memalukan. Saya kira inilah alasannya kenapa Prof Sofian Effendi langsung mencabut pernyataannya. Tidak sampai 24 jam setelah viral.
Topik:
