BREAKINGNEWS

Seni Mengkritik Penguasa: Menjaga Etika di Tengah Arus Transisi

Seni Mengkritik Penguasa: Menjaga Etika di Tengah Arus Transisi
Muhammad Budi Djatmiko (Ketua Umum APTISI, Ketua Umum HPTKes Indonesia & Presiden GERAAAK Indonesia)

Hari Jumat, 10 April 2026 Kami para pimpinan perguruan tinggi swasta seluruh Indonesia yang beranggotakan 4500 lebih perguruan tinggi swasta berkumpul di Universitas Gunadarma Jakarta, untuk melaksanakan seminar dan halal bi halal. Saya sebagai ketua APTISI (Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia), yang terdiri dari para guru besar, rektor, pimpinan yayasan, para intelektual kampus, menghimbau kepada semua anggota untuk tidak terpanjang pada isu, pemberitaan dan opini sesaat yang kurang mendidik pada masyarakat.

 

Saat ini, Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto berada dalam sorotan tajam radar publik. Dalam hitungan bulan yang masih "seumur jagung", kita menyaksikan sebuah potret kontras: gerak cepat pemberantasan korupsi dan ambisi swasembada di satu sisi, serta tantangan logistik program unggulan hingga duka nasional di medan internasional di sisi lain. Danantara dengan berbagai gebrakan untuk membantu Indonesia keluar dari berbagai permasalahan yang ada. Danantara berusaha mengefisiensikan BUMN Indonesia yang semrawut.


Dalam dinamika demokrasi, perbedaan pandangan adalah keniscayaan. Namun, tanpa "seni
berkomunikasi" yang matang, kritik sering kali tergelincir menjadi polarisasi yang merobek stabilitas sosial. Di sinilah relevansi nilai Islam hadir sebagai kompas, mengatur agar kritik berbuah perbaikan (ishlah), bukan kehancuran (mafsadah).

 

Antara Capaian dan Celah Evaluasi

 

Etika Data di Tengah Ambisi Swasembada Pemerintah saat ini tengah memacu akselerasi swasembada pangan dan energi sebagai pilar kedaulatan. Secara paralel, publik memberikan apresiasi tinggi terhadap performa aparat penegak hukum. Sinergi KPK, Kepolisian, dan Kejaksaan dalam melakukan "bersih-bersih" korupsi di berbagai lini birokrasi menunjukkan taring negara yang kembali tajam. Disaat negara-negara lain menaikan harga BBM, Presiden Prabowo tidak melakukan kenaikan BBM. Namun ada beberapa kebijakan yang dianggap tidak memberikan kepuasan pada segelinter orang. Disinilah kritik dan nasehat hadir.

 

Namun, pengkritik harus berdiri di atas prinsip Amanah, seperti yang Allah SWT., firmankan: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil..."(QS. An-Nisa: 58).

 

Mengkritik capaian ini harus berbasis data objektif, bukan kebencian semata. Misalnya, pada program Makan Bergizi Gratis (MBG), pengkritik yang beradab tidak akan sekadar mencela tujuannya, melainkan memberikan masukan teknis terkait rantai pasok dan efisiensi anggaran agar tidak menjadi celah kebocoran baru. Al-Qur'an mengajarkan metode hikmah (QS. An-Nahl: 125): "Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaranyang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk." Artinya di mana solusi lebih diutamakan daripada sekadar kegaduhan.

 

Tragedi Lebanon dan Kedewasaan Berpendapat

 

Duka menyelimuti bangsa atas gugurnya tiga prajurit TNI di Lebanon akibat eskalasi konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Peristiwa ini adalah momentum sensitif. Di sinilah adab menasihati pemimpin diuji. Kritik terhadap kebijakan luar negeri atau perlindungan prajurit harus disampaikan dengan menjaga marwah institusi negara. Sebagian masyarakat, ingin Indonesia keluar dari Board of Peace (Dewan Perdamaian) yaitu forum diplomasi global yang digagas oleh Donald Trump, yang bertujuan mendukung rekonstruksi Gaza pascaperang dan mendukung kemerdekaan Palestina.

 

Warisan tradisi kenabian mengingatkan bahwa nasihat terbaik kepada penguasa dilakukan tanpa mempermalukannya di depan publik secara destruktif. Rasulullah SAW menekankan pentingnya privasi untuk menghindari fitnah. Dalam konteks kekinian, ini berarti mengedepankan jalur dialog strategis dan diplomasi intelektual daripada memprovokasi kemarahan massa di ruang digital.

 

Inilah cara Rasulullah untuk memberi nasehat pada pemimpin, Hadist Tentang Nasihat Rahasia: "Barangsiapa yang ingin menasehati penguasa tentang suatu urusan, hendaknya tidak menampakkan nasihatnya di depan umum, tetapi menasehatinya secara sembunyi (pribadi, empat mata)..." (HR. Ahmad). Selanjutnya Rasulullah juga memberikan Hadist Tentang Jihad Terbesar: "Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kalimat yang hak (kebenaran) di hadapan pemimpin yang zalim." (HR. Abu Dawud & Tirmidzi).

 

Manajemen Hati: Memanusiakan Pemimpin Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengingatkan bahwa pemimpin adalah manusia yang memikul beban berat yang tak kasat mata. Sebagai masyarakat intelektual, kritik kita harus didasari oleh: Pertama: Keikhlasan Niat: Bukan demi panggung politik sektarian, tapi demi perbaikan bangsa. Kedua: Narasi yang Santun: Kata-kata yang lembut namun berisi fakta lebih mampu menembus relung kebijakan daripada narasi penuh kebencian. Ketiga: Refleksi Kolektif: Pemimpin adalah cermin dari rakyatnya. Memperbaiki kualitas bangsa dimulai dari kejujuran kita dalam menilai. Berilah kritik dan saran dengan cinta, kasih sayang dan sepenuh hati, jika memang tidak bisa ada acara lain yang sehingga nasehat itu sampai pada Presiden Prabowo. Walaupun dalam isi kritik lingkaran presiden sulit ditembus (sulit dinasehati), kalau memang benar harus kita perbaiki bersama, saluran “komunikasi antara Presiden dengan Rakyat”

 

Kesimpulan

 

Menasihati pemerintah dalam masa transisi ini adalah upaya menjaga keseimbangan antara keberanian moral dan kewajiban menjaga integrasi nasional. Kritik konstruktif harus mampu memisahkan antara "individu" dan "kebijakan". Islam mengajarkan bahwa kritik yang paling efektif adalah yang mampu mengubah keadaan tanpa harus meruntuhkan tatanan. Bangsa dan masyarakat Indonesia perlu diberikan kesadaran, pengetahuan dan harapan agar bangsa ini mampu berdiri tegak di kaki sendiri, mulailah saling memaafkan dan tidak mudah tersinggung agar tidak terjadi Devide et impera (politik pecah belah) adalah taktik adu domba Belanda untuk menguasai Nusantara dengan memecah belah kekuatan lokal.

 

Saran Praktis bagi Pengkritik dan Oposisi

 

Agar aspirasi kita berdaya guna bagi pemerintahan Presiden Prabowo, langkah-langkah berikut menjadi krusial:

 

A. Apresiasi yang Proporsional: Akui keberhasilan aparat hukum dan langkah swasembada sebagai bentuk fairness. Ini membangun suasana dialogis yang sehat.

 

B. Kritik Berbasis Solusi: Saat menyoroti hambatan program MBG atau risiko geopolitik, bawalah data empiris dan tawaran alternatif. Pemimpin akan lebih mendengar argumen teknokratis daripada sekadar opini emosional.

 

C. Gunakan Saluran Formal: Optimalkan lembaga perwakilan dan forum akademis sebagai jembatan komunikasi.

 

D. Pemilihan Momentum: Sampaikan masukan dengan kepala dingin, terutama saat negara sedang menghadapi duka atau tekanan eksternal, agar akal sehat tetap menjadi panglima.

 

Dengan adab dan data yang kuat, kritik tidak akan menjadi beban bagi negara, melainkan menjadi energi tambahan untuk membawa Indonesia menuju kedaulatan yang bermartabat.

 

Kita berdoa pada Allah, Tuhan YME. Agar Indonesia tetap jaya. Rakyat Bersatu, bergandengan tangan memikul permasalahan bangsa, jauhkan dari buruk sangka, dan yang berkuasa di pemerintahan diberi kekuatan untuk menjalankan roda pemerintahan dengan Amanah, dan membuka diri: “menerima kritik dan saran dari masyarakat” untuk perbaikan bangsa.

Topik:

Muhammad Budi Djatmiko

Opini

Ketua Umum APTISI, Ketua Umum HPTKes Indonesia & Presiden GERAAAK Indonesia

Video Terbaru