Partai Ummat Hadir Ditengah Kepedulian Masyarakat Terhadap Parpol Memudar

  • Whatsapp
Bidang ekonomi Airlangga Hartarto di Uji
Direktur Indonesian Presidensial Studies Arman Salam [Foto-MI/doc]

Deklarasi partai Ummat yang dimana anak mantu Amien Rais, Ridho Rahmadi menjadi ketua umumnya secara normatif sejatinya bagus dalam teori demokrasi. Dalam negara yang menganut paham demokratis maka keberadaan partai menjadi penciri kalau sistem itu berjalan baik.

Partai adalah pilar demokrasi sehingga banyak orang meyakini bulat lonjongnya demokrasi suatu bangsa dipengaruhi oleh kualitas partai yang ada. Apakah partai-partai yang ada bisa memberikan warna dalam berbangsa, apakah partai sudah bisa menjadi wadah aspirasi yang terpercaya, apakah idiologi partai menjadi acuan dan soko guru dalam sepak terjang partai dan banyak lagi hal penting yang diperankan oleh partai.

Bacaan Lainnya

Hal ini juga menjadi masalah dibanyak negara yang baru belajar demokrasi. Kebanyakan partai hanya wadah elite untuk mencapai kepentingan pribadi atau golongan. Aspirasi konstituen hanya sebagai bahan bakar menuju posisi tertentu bahkan banyak partai yang diperjual belikan hanya untuk sebagai pelengkap dalam hal dukung mendukung baik kepala daerah maupun kepala negara (presiden)

Tidak adanya ketegasan dari partai atau pimpinan partai membuat sistem kepartaian menjadi sengkarut skema koalisi maupun perjuangan aspirasi menjadi abu abu semua bermuara pada kepentingan untuk posisi jabatan maupun fragmatisme.

Dari hasil survei Nasional IPS bulan Maret 2021, kepercayaan publik terhadap partai sebagai saluran aspirasi relatif kecil. Artinya publik melihat peran partai saat ini di Indonesia hanya lucu-lucuan sebagai pelengkap dan wadah kepentingan.  Ideologi menjadi absurd dan kepedulian masyarakat terhadap partai mulai pudar.

Partai Ummat lahir dizaman yang berbeda dimana teknologi dan dinamika dari pradigma politik masyarkat juga sangat cair informasi begitu cepat, sehingga partai ummat diharapkan bisa melihat ini dengan cermat agar jangan sampai partai ummat seperti para pendahulunya hanya sebagai penari latar politik di indonesia yang kandas diganjal parliamantary treshold dan hilang ditelan waktu.

Yang justru menjadi sangat penting saat ini adalah penguatan nilai dalam partai, peningkatan kualitas partai karena suka tidak suka dalam model pemilihan saat ini di alam demokrasi partai adalah ibu kandung dari pemimpin baik tingkat pusat maupun daerah, peran masyarakat sangat penting agar tercipta partai partai yang kuat, tangguh dan mumpuni dalam menelurkan kepemimpinan.

Jika dilihat dari sisi konfigurasi politik nasional jelas jika Partai Ummat mampu menampilkan ide, gagasan dan apik dalam membangun jaringan sampai grass root maka, PAN adalah partai yang paling berdampak kemudian partai yang beridiologi agama, meski dikatakan antara PAN dan partai Ummat berbeda ideologi namun perlu di ingat party di Indonesia sangat kecil.

Artinya militansi konstituen terhadap partai tidak terikat kuat oleh idiologi, publik masih melihat figur dalam tubuh partai, keberadaan Amien Rais sebagai ketua dewan syuro mau tidak mau akan menjadi magnet pemilih PAN. Belum lagi tokoh nasional yang lain seperti MS Kaban setidaknya bisa memanggil pemilih PBB yang mungkin sudah terpencar masuk kepartai lain.

 

Penulis adalah Direktur Indonesian Presidensial Studies (IPS) Arman Salam

Pos terkait