Pasal 158 UU Pilkada Dinilai Lawan Hakekat Demokrasi  

  • Whatsapp
Pasal 158 UU Pilkada Dinilai Lawan Hakekat Demokrasi  
Margarito Kamis

Jakarta, Monitorindonesia.com – Pasal mengenai syarat pengajuan gugatan sengketa hasil Pilkada ke Mahkamah Konstitusi (MK) oleh banyak pihak dinilai bisa adil dan sebaliknya juga bisa tidak adil. Pakar menilai Pasal 158 UU N0.10/2016 itu tidak adil.

“Pasal ini menurut saya bertentangan dengan hakekat demokrasi, sebab bagaimana bisa hak diperoleh dengan cara yang tidak sah,” ujar Pakar Hukum Tata Negara (HTN), Margarito Kamis di Jakarta, Senin (8/02/2021).

Menurut Margarito, MK harus tahu betul fakta persidangan, bagaimana calon-calon menggunakan APBD, menggerakkan aparatur birokrasi dari kabupaten hingga desa. Begitu juga bagaimana kandidat menggunakan anggaran yang sudah diputuskan dalam paripurna DPRD untuk digunakan pada tahun 2021, tetapi anggaran tersebut malah dipakai dalam tahun 2020, seperti kasus Kota Tidore.

Hal-hal seperti ini, lanjut Margarito, harus dipertimbangkan, dan MK harus berani keluar dari jerat Pasal 158 itu. Sebab, jika MK tetap menggunakan dasar Pasal 158 untuk menyelesaikan sengketa hasil Pilkada, sama dengan MK membenarkan cara-cara yang salah untuk mendapatkan hak menjadi pejabat.

Margarito mengatakan, hak hanya bisa diperoleh dengan cara persidangan yang benar. Malah prosedur memperoleh Hak itu lebih penting daripada Hak itu sendiri. Apalagi Pemilu/Pemilukada itu merupakan cara dari orang-orang beradab dalam mewujudkan keadilan.

“Akan tidak adil apabila prosedurnya dilewati. Itu sebabnya, di dalam negara demokrasi kontitusional, du process of law itu memiliki nilai yang tinggi, sebab dia menjadi cara bagaimana keadilan diwujudkan,” jelasnya.

Sebagaimana diketahui, sampai saat ini MK telah menerima sebanyak 136 permohonan perselisihan hasil pilkada (PHPKada) sejak pengumuman pleno hasil pilkada 2020 oleh KPU di sejumlah daerah. Dari 136 permohonan yang masuk ke MK dari 116 daerah, ada 25 permohonan yang memang memenuhi ambang batas 0,5 hingga 2 persen sebagaimana ditentukan oleh Pasal 158 UU Pilkada.

Menurut Margarito, sebanyak 136 pasangan calon yang mengikuti Pilkada Serentak 2020 lalu, kini menanti keadilan di MK. “Jadi, lebih baik MK kesampingkan Pasal 158 tersebut,” tandasnya.[MI/man]

Pos terkait