DPR Minta Pemerintah Hadir dalam Sengketa Tanah Ulayat Suku Sakai-Sinas Mas

  • Whatsapp
Mardani Ali Sera: KPK Diujung Tanduk
Anggota Komisi II DPR RI Mardani Ali Sera.[Ist]

Monitorindonesia.com – Bentrokan antara masyarakat dengan pemegang hak pengelolaan hutan (HPH) PT Arara Abadi kembali terjadi Selasa tanggal 27 April 2021 lalu. Bentrokan terjadi di Dusun Suluk Bongkal, Desa Koto Pait, Kecamatan Talang Mandau, Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau antara masyarakat suku Sakai Batin Bringin Sakai dengan pihak perusahaan perkayuan PT Arara Abadi Distrik Duri 2 Sinar Mas.

Anggota Komisi II DPR RI Mardani Ali Sera mengaku prihatin atas apa yang dialami oleh masyarakat adat tersebut. Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu pun menegaskan, seharusnya semua pihak mesti menggunakan pendekatan non kekerasan.

Bacaan Lainnya

“Apalagi pada rakyat dan suku asli (Sakai). Keberadaan mereka jauh mendahului segala jenis usaha dan bisnis,” ujar Mardani Ali Sera kepada Monitorindonesia.com Selasa (4/5/2021).

Mardani mengatakan, selalu rakyat dusun suku asli kalah dan tersingkir atas hak pengelolaan hutan yang dikeluarkan pemerintah. Padahal, rakyat suku asli sudah terlebih dulu hadir di kawasan tersebut.

“Saatnya negara hadir dan membela rakyat dan suku asli. Dialog dan dengarkan aspirasi rakyat dan suku asli,” tegas Mardani.

Menurutnya, pemerintah dan pihak perusahaan harus mencari jalan terbaik menyelesaikan masalah di hak ulayat tersebut. “Harus ada win-win solution ketika perusahaan dan pemerintah mau mendengar aspirasi rakyat dan suku asli,” tegasnya.

Sebagaimana diketahui, bentrokan yang menyebabkan sejumlah warga Suku Sakai Batin Bringin Dusun Suluk Bongkal terluka hanya ingin mempertahankan Hak Ulayat mereka. Masyarakat adat mengaku memiliki bukti otentik atas lahan yang selama ini dikuasai salah satu konglemorat di negeri ini.

Warga mengatakan, terdapat makam tetua leluhur mereka sejak zaman nenek moyang mereka sejak puluhan tahun lalu. Namun sejak Sinar Mas masuk wilayah tersbeut, rakyat asli semakin terjepit.

Bentrokan terjadi akibat perusahaan PT Arara Abadi secara sepihak tanpa ada pemberitahuan kepada masyarakat setempat. PT Arara Abadi yang merupakan anak perusahaan Sinar Mas dan Asia Pulp and Paper (APP) melakukan penanaman pohon industri secara paksa di lahan milik tanah Ulayat.

“Kami hanya mempertahankan sedikit hak tanah wilayat kami yang diserobot perusahaan. Kami akan berkirim surat kepada Bapak Presiden Jokowi untk mengadukan nasib kami. Sudah terlalu lama kami ditindas perusahaan ini,” ujar salah satu warga yang enggan disebut namanya dengan alasan takut di intimidasi pihak perusahaan.

Managemen Sinar Mas yang merupakan Induk PT APP dan PT Arara Abadi di Jakarta hingga saat ini belum memberikan tanggapan.[Lin]

 

Pos terkait