Perjuangan Relawan India Kuburkan Korban Covid-19

  • Whatsapp
Perjuangan Relawan India Kuburkan Korban Covid-19

Gujarat, Monitorindonesia.com – Setiap hari setelah selesai mengajar kelas online di kampus Bengaluru, Akshay Mandlik menggunakan masker, sarung tangan dan penutup badan dari ujung kepala sampai kaki untuk membantu penguburan mayat terinfeksi Covid-19.

Akshay Mandlik merupakam seorang professor di bidang ilmu sosial berusia 37 tahun merupakan salah satu warga India yang menjadi relawan di seluruh India yang melangkah maju untuk membantu para keluarga yang mengalami dampak gelombang kedua Covid-19 yang mematikan dengan mengorbankan keselamatan mereka sendiri.

Bacaan Lainnya

Professor Mandlik membantu para keluarga yang sedang berduka untuk menemukan tempat penguburan, membawa mayat dan bahkan menggali kubur ketika kekurangan tenaga penggali kubur.

“Saya butuh waktu untuk mempertimbangkan keterlibatan saya karena saya belum divaksin tetapi kebutuhan mereka jauh lebih besar dari ketakutan saya,” tutur Professor Mandlik.

India, merupakan produsen vaksin terbesar dunia telah menyuntikkan vaksin lebih dari 40,9 juta orang atau hanya sekitar 3,3% dari total penduduknya 1,35 miliar jiwa berdasarkan data yang dirilis Rabu (19/05/2021).

Para relawan mengatakan bahwa mereka tergerak untuk bertindak untuk membantu karena permintaan tolong yang muncul di media sosia dan komunitas lokal mereka yang tampak putus asa.

Dua orang bersaudara Murthaza Junaid dan Muteeb Zoheb keduanya dikenal pebalap motor dan pengusah juga menjadi sukarelawan sebagai pengemudi ambulans di Bengaluru untuk merespon permintaan tolong setiap minggu.

Zoheb berusia 33 tahun mengatakan bahwa dia dan saudara laki-lakinya memutuskan jadi relawan bulan lalu setelah mendengar sejumlah keluarga dikenakan biaya lebih mahal oleh para layanan ambulans professional.

Dengan pusat gelombang kedua India, Bengaluru mencatat jumlah total kematian 10.000 kasus pada Selasa (18/05/2021) dan jumlah infeksi baru harian telah melewati ke Mumbai dan New Delhi. Lebih dari 1/3 dari tingkat kematian telah terjadi sejuh ini di bulan Mei.

Beberapa kelompok informal relawan telah muncul seperti pekerja professional IT, pekerja investasi bank, agen perumahan dan para mahasiswa bekerja sama untuk menempatkan ranjang untuk gawat darurat, persediaan Remdesivir, konsentrator oksigen atau ambulans.

Azmat Mohammed berusia 44 tahun mengatakan bahwa dia mengambil libur panjang dari pekerjaannya di IT untuk bisa membantu seharian, sementara mahasiswa jurusan hukum Akshaya berusia 22 tahun mengatakan bahwa dia menyeimbangkan kuliah dan peran dia sebagai sukarelawan Covid-19.

“Saya percaya jika kita melakukan hal baik, kita akan mendapatkan hal baik juga,” ungkap Akshaya. “Saya ikut kelas dan pergi ke acara penguburan. Saya juga menghabiskan waktu untuk bekerja sama dengan orang lain untuk membantu operasional ambulans. Itu merupakan multi-tasking yang cukup banyak.”

Dengan gelombang kedua Covi-19 tersebar tak hanya di kota-kota besar, sekelompok orang telah membentuk sukarelawan untuk kota yang lebih kecil sama halnya dengan kota besar.

Di Surat, bagian barat Gujarat, para relawan di Khan Trust dan Ekta Foundation bekerja untuk mengkremasi pada mayat yang terinfeksi Covid-19 di daerah tersebut.

Selama kerusuhan Hindu-Muslim di India tahun 200, wilayah itu mengalami kekerasan terparah pada saat itu tetapi pandemic Covid-19 mencairkan suasana sisa permusuhan antara dua komunitas tersebutu, ungkap para sukarelawan.

Sahil Sheikh pada usianya yang ke-20 mengatakan bahwa dia dan teman-temannya telah memimpin ritual akhir untuk hampir 800 orang dalam satu tahun terakhir di semua wilayah.[Yohana RJ]

 

Sumber : Reuters

Pos terkait