Perseteruan AS dan Prancis Memanas di Dewan Keamanan PBB

  • Whatsapp
Memalukan! Wajah Presiden Prancis Ditampar di Muka Umum
Presiden Prancis Emmanuel Macron. [Foto/AP]

New York, Monitorindonesia.com – Konflik di Timur Tengah telah memicu pertikaian diplomatik di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) antara Prancis dan Amerika Serikat sekaligus merupakan ketegangan terbuka pertama antara kedua sekutu sejak Joe Biden jadi pesiden AS

Meski mendapat penentangan dari Amerika Serikat, Prancis tetap mengajukan draf resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan diakhirinya permusuhan antara Israel dan Palestina serta akses kemanusiaan ke Jalur Gaza.

AS telah berulang kali memveto resolusi serupa dalam beberapa hari terakhir dengan mengatakan pihaknya sedang mencari jalan lain untuk menyelesaikan krisis.

Proposal terbaru Prancis, yang diumumkan dalam sebuah pernyataan dari Paris pada Selasa malam waktu setempat, dengan cepat mendapat tanggapan tegas dari Amerika Serikat. Hal itu menandakan AS akan menggunakan hak vetonya lagi jika diperlukan.

Juru bicara AS di PBB mengatakan bahwa pihaknya fokus pada upaya diplomatik intensif untuk mengakhiri kekerasan seperti dikutip ChannelNewsAsia.com, Kamis (20/5/2021). Selain itu, pihaknya tidak akan mendukung tindakan yang diyakini merusak upaya untuk menurunkan ketegangan.

Pada saat yang sama, Biden mengumumkan bahwa dia telah secara langsung mengatakan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa dia mengharapkan “penurunan kekerasan yang signifikan” dan menyoroti pendekatan yang kontras terhadap konflik tersebut.

Prancis belum mengusulkan tanggal pemungutan suara untuk resolusi yang diusulkan, dan draf teks tersebut tampaknya belum diedarkan secara luas di antara 15 anggota Dewan Keamanan PBB.

Taktik tersebut menimbulkan dugaan bahwa langkah itu adalah upaya untuk meningkatkan tekanan pada AS. Atau bisa juga untuk menggarisbawahi bahwa Biden tidak memenuhi janjinya untuk memiliki pendekatan yang lebih multilateral dalam urusan internasional daripada pendahulunya Donald Trump.

“Ini agak aneh mengingat harapan yang kami semua miliki agar Amerika Serikat kembali ke diplomasi multilateral,” kata seorang duta besar PBB tanpa menyebut nama.[Yohana RJ]

Pos terkait