AS Memperingatkan Polisi yang Membunuh Demonstran di Kolombia

  • Whatsapp
Polisi yang Membunuh Demonstran di Kolombia

Monitorindonesia.com – Aparat kepolisian di Kolombia, Kota Cali dilaporkan melakukan penembakan kepada para demonstran yang menuntut reformasi pajak. Kantor HAM AS mengungkapkan bahwa mereka dalam proses verifikasi jumlah korban dan mencoba mencari tahu penyebab insiden tersebut.

Juru bicara HAM, Marta Hurtado mengatakan bahwa pentingnya mengetahui dasar permasalahannya terlebih dahulu. Dia menginformasikan bahwa kantor telah menerima laporan penahanan orang secara semena-mena, laporang tentang orang-orang yang ditindak keras dan diancam oleh aparat kepolisian. Hak asasi setiap orang harus diperjuangkan, Hurtado menegaskan.

“Kami telah melihat beberap video polisi yang menyeret para pengunjuk rasa termasuk para demonstran yang terluka.” Hurtado menuturkan .

“Kami telah menyaksikan penyalahgunaan kekuasaan para aparat kepolisian yakni penembakan, amunisi dan pemukulan terhadap para demonstran.”

Belum ada jawaban dari pemerintah Kolombia kepada AS. Menteri Pertahanan Kolombia, Diego Molano telah menduga bahwa kelompok bersenjata ilegal telah menyusup para demonstran dan menyebabkan tindak kekerasan.

Kepala kepolisian Kolombia, Jendral Jorge Luis Varga mengatakan bahwa terdapat 26 orang aparat yang diduga melakukan tindakan brutal sedang dalam proses investigasi. Berita ini muncul ketika kantor mereka diserang ditengah tindakan penjarahan dan pembakaran bus.

Mogok melawan pengajuan reformasi tagihan pajak telah berlanjut dari 28 April 2021. Para demonstran melanjukan aksi mereka meskipun Presiden telah mengumumkan akan mencabut tagihan pajak setelah pertimbangan kongres (02/05/2021).

Hurtado mengatakan bahwa setidaknya ada 14 orang tewas sejak awal unjuk rasa termasuk salah satunya satu oran aparat kepolisian. Dia menambahkan bahwa secara garis besar unjuk rasa berlangsung dengan damai dan berharap berlanjut dengan demonstrasi yang berlangsung Rabu (04/05/2021).

Kantor HAM menegaskan bahwa pengawasan hukum internasional, tindaka keras hanya bisa digunakan apabila dalam keadaan gentuing dan proporsi ancaman yang tepat.

Dikatakan bahwa para aparat penegak hukum diizinkan menggunakan senjata api sebagai pilihan akhir untuk menghadapi ancaman yang menyebabkan kematian atau luka serius.[Yohana RJ]

Sumber: VOA News

Pos terkait