252 Siswa Keracunan MBG, DPR Murka: SPPG Jaktim Diminta Disetop, BGN Disorot Lalai

Jakarta, MI – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai sorotan keras setelah 252 siswa di Jakarta Timur diduga mengalami keracunan usai menyantap menu pangsit tahu dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pulogebang.
Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi NasDem, Irma Suryani Chaniago, meluapkan kemarahannya dan meminta operasional SPPG terkait segera dihentikan sementara.
Irma menilai Badan Gizi Nasional (BGN) gagal melakukan pengawasan ketat terhadap kualitas makanan yang disalurkan kepada siswa.
Ia bahkan menyoroti keberadaan tiga petugas BGN yang ditempatkan di setiap SPPG namun dinilai tidak menjalankan fungsi pengawasan secara maksimal.
“BGN seharusnya check and recheck, jangan percaya begitu saja. Tiga SDM dari BGN yang ada di SPPG harus dievaluasi total. Kalau mereka bekerja sesuai tanggung jawab, kejadian ratusan siswa keracunan seperti ini tidak akan terjadi,” tegas Irma, Minggu (10/5/2026).
Politikus NasDem itu juga mempertanyakan standar keamanan pangan dalam pengolahan menu MBG, khususnya pangsit isi tahu yang disebut-sebut menjadi sumber keracunan massal.
Ia mendesak investigasi menyeluruh untuk mengungkap apakah makanan diproduksi sendiri atau dibeli dari pihak luar tanpa pengawasan higienitas yang memadai.
“Kan ada ahli gizi? Pangsitnya dibuat sendiri atau beli? Ini harus dibongkar sampai tuntas,” katanya.
Irma menegaskan, kasus di Jakarta Timur menunjukkan adanya dugaan kelalaian serius dalam tata kelola program MBG yang selama ini digadang-gadang sebagai program unggulan pemerintah.
Ia meminta SPPG Pulogebang segera di-suspend agar tidak memakan korban tambahan.
“Di daerah-daerah justru mulai membaik setelah ada suspend massal terhadap SPPG nakal dan yang tidak sesuai standar. Yang di Jaktim juga harus disetop sementara,” ujarnya.
Tak hanya itu, Irma turut menyinggung lemahnya kerja sama antara BGN dan Badan Pengawas Obat dan Makanan terkait pengawasan pangan aman.
Ia bahkan menyoroti dugaan praktik “jual beli” sertifikat laik higienis tanpa inspeksi lapangan yang benar.
“Dari awal saya sudah ingatkan BGN pentingnya kerja sama dengan BPOM. Katanya sudah ada MoU, tapi sampai sekarang belum jalan optimal. Sertifikasi laik higienis juga diduga hanya formalitas, tidak dicek langsung ke lokasi, cuma jadi jualan sertifikat,” kritiknya.
Sebelumnya, Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat sebanyak 252 siswa mengalami gejala diduga keracunan makanan usai menyantap menu MBG di wilayah Pulogebang, Jakarta Timur.
Dugaan sementara mengarah pada menu pangsit isi tahu yang dilaporkan memiliki rasa masam.
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, mengatakan pihaknya bersama Sudin Kesehatan Jakarta Timur telah melakukan pembinaan dan inspeksi terhadap SPPG Pulogebang, termasuk pelatihan penjamah makanan serta pengawasan lingkungan dapur produksi.
Namun kasus ini memunculkan pertanyaan besar mengenai efektivitas pengawasan program MBG yang kini mulai menuai rentetan insiden keracunan di berbagai daerah.
Topik:
