BREAKINGNEWS

Ketika Luhut Tiba-tiba Teringat Almarhum Benny Moerdani

Ketika Luhut Tiba-tiba Teringat Almarhum Benny Moerdani
Ketika Luhut Tiba-tiba Teringat Almarhum Benny Moerdani
Di tengah kesibukannya sebagai Menko Maritim dan Investasi (Marves) dan sejumlah kegiatan lainnya, Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan masih meluangkan waktunya untuk "menengok" atau berziarah ke makam almarhum Jenderal TNI (Purn) Leonardus Benyamin (Benny) Moerdani. Jenderal Benny Moerdani salah satu jenderal tempur TNI yang sangat dikagumi oleh LBP sapaaan akrab Luhut Binsar Pandjaitan. "Saya memang sudah beberapa waktu tidak berziarah ke makamnya (Benny Moerdani). Saya pada suatu pagi minggu lalu memutuskan untuk berziarah ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Nasional Kalibata," ujar Luhut seperti dikutif Monitorindonesia.com dari akun facebooknya, Jumat (23/7/2021) malam. Sesampainya di pusara Benny Moerdani, Luhut pun memberi hormat penuh. Selanjutnya memanjatkan doa terbaik agar arwah Benny diterima di sisi Tuhan yang Maha Kuasa sesuai dengan amal jasanya sewaktu masih hidup. Luhut pun menyentuh batu nisan Almarhum Benny. "Saya baca tulisan di nisan itu, beliau meninggal pada 29 Agustus 2004, setelah dirawat beberapa waktu di RSPAD Gatot Soebroto. Usianya 72 tahun. Relatif masih muda.Beberapa lama saya pandang pusaranya yang sederhana, sesederhana ribuan pusara lain di TMP Kalibata yang seolah mengisyaratkan bahwa bila wafat, hanya gundukan tanah seluas 1 x 2 meter itulah yang tersisa," tutur mantan Danjen Kopassus itu. Betapa pun kayanya seseorang, tambah Luhut, betapa berkuasanya sewaktu masih hidup, hanya gundukan tanah itu yang menandakan bahwa ada sesosok manusia yang pernah hidup di dunia. Luhut pun bercerita tentang sosok almarhum Benny yang merupakan salah satu Jenderal TNI yang ia kagumi sejak masih perwira menengah TNI-AD. Dia mulai kenal Benny sejak  berpangkat Mayor sebelum bersama Kapten Inf. Prabowo Subianto (Menteri Pertahanan saat ini) dikirim untuk belajar mengenai pasukan anti-teror di GSG-9 di Jerman Barat. Meski waktu itu Benny berpangkat Letjen dan menjabat Asintel Hankam/ABRI, dari waktu ke waktu Benny selalu meminta Luhut memberikan laporan kemajuan sekolah di Jerman Barat. Bahkan, Luhut mengisahkan, Letjen Benny tidak malu menelepon dirinya dan mengajukan pertanyaan yang mendetail. Setelah pulang sekolah dan Luhut pun dipercaya memimpin pasukan anti-teror pertama di Indonesia yaitu Datasemen 81 (Den-81). Luhut pun sering dipanggil menghadap Benny di kantornya di Jalan Sahardjo (sekarang lokasinya menjadi Balai Prajurit TNI). "Entah menanyakan pelatihan pasukan yang baru itu, atau lain-lain. Dari situ saya mendapat kesan khusus mengenai betapa ia memiliki karakter yang sangat kuat. Auranya memancarkan wibawa ditambah dengan wajahnya yang keras dan jarang tersenyum. Saya kagum bahwa loyalitas kepada pimpinan negara dan NKRI tidak perlu dipertanyakan lagi. Setiap kata atau tindakannya mencerminkan, menurut istilah masa kini, kesetiaan yang tegak lurus ke atas," tutur Luhut. Suatu hari sebelum Luhut mendapat penugasan memimpin operasi khusus mengamanan Presiden Soeharto dalam KTT ASEAN di kota Manila, Filipina, Jenderal Benny yang sudah jadi Panglima ABRI saat itu mengatakan dengan dingin, “Luhut, sejak dua atau tiga tahun lalu, sudah banyak yang antri untuk menggantikan saya, tetapi orang ini (sambil menunjuk foto Pak Harto di dinding) kalau terjadi sesuatu pada dirinya, Republik itu menjadi kacau…!” ujar Luhut menirukan pembicaraan Benny terhadapnya saat itu. Dengan tegas kemudian Benny berkata “Jadi Luhut, taruhan keselamatan Pak Harto adalah lehermu..!” Sebagai perwira saya cuma menjawab, “Siap! Laksanakan!" kata Luhut. Akibat sering dipanggil ke kantor Panglima ABRI, lama-lama Luhut mengaku jadi risih. Kebanggaan dipanggil oleh Panglima ABRI mengecil, karena pasti banyak yang tahu, dan banyak pula senior yang tidak senang atau mungkin juga jadi iri. Sebab, seorang perwira menengah dipanggil oleh Jenderal bintang empat berjam-jam. Suatu hari ketika mood Jenderal Benny sedang bagus, Luhut memberanikan diri bertanya. “Pak, mohon izin, lain kali kalau memanggil saya bisa kah melalui atasan saya?” tanya Luhut. Luhut saat itu berupaya curi pandang wajah Jenderal Benny, dan mukanya lalu mengeras. "Kedua tangannya mulai menyapu-nyapu mejanya, dan saya menyesal koq berani-berani membuat beliau marah. Tapi, nasi sudah jadi bubur, saya pasrah," kisah Luhut. Namun, Jenderal Benny pun menjawab. “Luhut!” katanya dengan nada dalam. “Saya jenderal bintang empat…!” sambil menunjukkan tanda pangkatnya di bahu dan kamu Letkol! ”Itu saja, dan saya sudah mengerti maksudnya. “Siap!” jawab Luhut menimpali Jenderal Benny. Sejak saat itu, Luhut tidak pernah berani menanyakan lagi soal itu. Beberapa tahun kemudian ketika Jenderal Benny pensiun, Luhut menerima konsekuensi karena jadi golden boys Benny. Tapi menerima itu semua dengan besar hati. "Tidak jadi Danjen Kopassus, tidak jadi Kasdam atau Pangdam, bagi saya itu harus bayar sebagai akibat kesetiaan yang tegak lurus. Dan saya bangga mampu menjalankan nilai-nilai yang diturunkan oleh Pak Benny kepada saya," tutur Benny. Beberapa tahun kemudian, Benny sudah tidak memiliki power lagi, kecuali jabatan sebagai Menteri Hankam yang “tak bergigi”. Saat itu, Luhut berpangkat Kolonel dan baru pulang dari pendidikan di NDU di Washington DC. Luhut pun mendatangi kantor Benny, dan menanyakan rumor yang beredar di luar bahwa Benny sudah “jauh” dari Pak Harto. “Benar itu Luhut..!” jawab Benny berterus terang. Benny pun menjelaskan bahwa Presiden Soeharto marah kepadanya, ketika dengan cara halus mencoba mengingatkan bisnis yang dijalankan oleh putera-puterinya yang sudah kelewat batas di meja biliar. Pak Harto lalu tiba-tiba meletakkan stik biliar dan masuk kamar. Sejak itu, Benny Moerdani tidak pernah dekat dengan Presidennya. “Tetapi asal kamu tahu ya Luhut. Apapun sikap beliau, saya tidak pernah kehilangan kesetiaan saya kepadanya! kata Luhut lagi-lagi menirukan kata Benny saat itu. Luhut juga mengingat suatu hari tahun 1983, ketika hampir terjadi krisis keamanan yang melibatkan Prabowo, Ia menyampaikan kasus itu kepada Menhankam/Pangab Jenderal M. Jusuf. M.Yusuf pun berkata pendek, “Luhut, saya percaya kesetiaan Benny, saya tidak ragukan dia! Karena Pangab sudah memutuskan, maka permasalahan sensitif tersebut selesai dengan sendirinya," ujar Luhut menirukan ucapan M Yusuf. Luhut mengatakan, banyak pelajaraan mengenai kepemimpinan dan kemiliteran yang dipelajari dari Benny dan M Yusuf. Dan Luhut mengakui, karena pengaruh Benny Moerdani itulah yang membuat dirinya tertarik pada masalah-masalah intelijen, diantaranya dalam memelihara jaringan (networking) dengan berbagai tokoh di dunia. Benny dikatakan Luhut mempunyai buku alamat kecil yang sudah lusuh karena penuh dengan nama-nama tokoh penting dan nomor telepon hot-line yang ia bisa hubungi 24 jam sehari. "Kenangan manis bersama Jenderal Benny Moerdani saya tuangkan dalam biografi saya nanti. Untuk sementara saya hanya bisa katakan, Rest in Peace Jenderal Benny! Hingga hari ini saya tidak mengecewakan harapan bapak!" tandas Luhut.[Man]

Topik:

Aldiano Rifki

Penulis

Video Terbaru