BREAKINGNEWS

Dari Anak Penjual Kue Keliling, Jerry Hermawan Lo Jadi Bos JHL Group dan Inspirasi Mahasiswa

Dari Anak Penjual Kue Keliling, Jerry Hermawan Lo Jadi Bos JHL Group dan Inspirasi Mahasiswa
Jerry Hermawan Lo membagikan kisah perjuangannya dari anak pedagang keliling di Medan hingga menjadi pemilik JHL Group dalam peluncuran buku The Art of Simple Leadership. Di hadapan 400 mahasiswa dari 26 perguruan tinggi, ia menekankan pentingnya motivasi diri, kerja keras, dan keberanian menghadapi kehidupan. (Foto: Istimewa)

Serpong, MI – Sebanyak 400 mahasiswa dari 26 perguruan tinggi di seluruh Indonesia tampak terpukau saat mengikuti kuliah umum dan peluncuran buku The Art of Simple Leadership di Garuda Ballroom Hotel Episode Serpong, Jumat (8/5/2025).

Mereka dibuat kagum ketika mengetahui bahwa ayah konglomerat Jerry Hermawan Lo, Lo A Seng, hanyalah penjaja minyak keliling, sementara sang ibu, Lie Hui Moi, berjualan kue dan nasi uduk di kawasan Kampung Keling, Medan.

Di hadapan para mahasiswa, Jerry Hermawan Lo membagikan pesan tentang pentingnya motivasi diri dan proses perjuangan dalam meraih kesuksesan.

“Apabila ingin sukses, kuncinya harus dapat memotivasi diri sendiri. Jangan bergantung pada motivasi pemberian orang lain. Nanti spirit untuk maju itu perlahan akan berkurang, selanjutnya hilang menguap. Proses lebih penting dari kesempurnaan."

"Perjalanan ribuan kilometer berawal dari sebuah langkah. Teruslah berproses dan melangkah. Sekecil apa pun sangat berguna,” ujar Jerry.

Usai kuliah umum, Jerry berdialog dengan mahasiswa dipandu Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas, Tri Agung Kristanto.

Hadir pula dalam acara tersebut Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir, Komjen Pol (Purn) Mochamad Iriawan alias Iwan Bule, Letjen TNI (Purn) Ganip Warsito, dan Letjen TNI (Purn) Joni Supriyanto.

Meski hanya mengenyam pendidikan formal hingga sekolah dasar, Jerry dikenal dekat dengan kalangan mahasiswa.

Melalui Yayasan Merah Putih Kasih yang didirikannya pada 2015, ia aktif menyalurkan beasiswa bagi mahasiswa pertanian di berbagai daerah. Visi besarnya adalah mencetak 1.200 sarjana pertanian di Indonesia.

Semangat nasionalisme dan perjuangan sosial juga menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Pada era Reformasi 1998, Jerry membentuk Forum Persaudaraan Anak Bangsa (F-PAB), organisasi sosial yang memperjuangkan persatuan lintas etnis, agama, dan golongan, sekaligus memperjuangkan hak-hak sipil masyarakat etnis Tionghoa yang selama Orde Baru mengalami diskriminasi.

Perjuangan F-PAB turut mendorong penghapusan Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI) melalui Instruksi Mendagri Nomor 25 Tahun 1998. Organisasi tersebut juga dikenal karena perjuangannya mempertahankan gedung cagar budaya Candra Naya di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta, dari ancaman penggusuran.

“Masyarakat Indonesia yang majemuk harus hidup berdampingan secara damai meskipun berbeda latar belakang budaya dan agama,” kata Jerry.

Tidak Lahir di Ranjang Emas

Jerry Hermawan Lo lahir di Medan pada 22 November 1957. Sejak kecil, ia membantu ibunya berjualan kue keliling kampung. Salah satu momen yang paling membekas dalam hidupnya terjadi sekitar tahun 1968 ketika ia duduk di bawah pohon palem sambil memandang rumah dinas Gubernur Sumatera Utara saat itu, Marah Halim Harahap, di kawasan elite Polonia, Medan.

Dari sana tumbuh tekad kuat dalam dirinya untuk suatu hari memiliki rumah besar. Puluhan tahun kemudian, impian itu terwujud. Jerry kini dikenal sebagai pemilik puluhan hotel dan properti di berbagai kota melalui JHL Group.

Perjalanan hidupnya berubah drastis ketika nekat merantau ke Jakarta pada 22 Juni 1973 hanya dengan bekal tiket kapal laut dan mimpi besar. Di ibu kota, ia menjalani berbagai pekerjaan kasar demi bertahan hidup, mulai dari kuli bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok, kondektur bus, hingga pencuci mobil.

Tradisi kerja keras sejak kecil membuatnya pantang menyerah menghadapi kerasnya kehidupan metropolitan. Dengan pendidikan formal yang terbatas, Jerry mengaku lebih banyak belajar dari “Life University” — sekolah kehidupan yang membentuk mental dan karakter melalui pengalaman jatuh bangun.

Kini, di bawah bendera JHL Group, Jerry membangun jaringan bisnis di berbagai sektor, mulai dari hotel, otomotif, pertambangan, media, hingga agribisnis. Salah satu proyek terbarunya adalah pembangunan pabrik pengolahan kelapa terpadu melalui PT Dewa Agricoco Indonesia dengan target produksi mencapai 3 juta butir kelapa per hari.

Kata Kunci: Art dan Simple

Buku The Art of Simple Leadership setebal 361 halaman diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas, PT Kompas Media Nusantara. Buku tersebut ditulis oleh dr. Steven Beteng, seorang konsultan bisnis senior sekaligus sahabat dekat Jerry Hermawan Lo. Sebelumnya, Steven juga menulis buku biografi Jerry berjudul Life University.

Dalam buku itu terdapat dua kata kunci utama, yakni art dan simple. Kata art menggambarkan gaya kepemimpinan Jerry yang dijalankan dengan intuisi, kreativitas, dan imajinasi layaknya seorang seniman. Sementara simple mencerminkan cara memimpin yang sederhana, membumi, tidak berbelit-belit, dan mudah diterapkan siapa saja.

Buku tersebut menegaskan bahwa kepemimpinan tidak selalu ditentukan oleh gelar tinggi atau teori yang rumit. Menurut Jerry, kepemimpinan justru lahir dari konsistensi, ketulusan, dan keberanian mengambil keputusan.

Perjalanan hidup Jerry Hermawan Lo menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih kesuksesan. Dari anak pedagang keliling hingga menjadi pengusaha besar, ia membangun semuanya melalui kerja keras, keberanian, dan ketekunan menghadapi kehidupan.

Topik:

Adelio Pratama

Penulis

Video Terbaru

The Art of Simple Leadership: Kisah Jerry Hermawan Lo | Monitor Indonesia