Gunakan Rapid Test Bekas, DPR Minta Pelaku Dihukum Berat

  • Whatsapp
rapid test bekas
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Martin Manurung.[Foto/ist]

Monitorindonesia.com – Penggunaan alat rapid test antigen bekas yang digunakan di Bandara Internasional Kualanamu, Sumatera Utara jelas sangat meyakini hati rakyat. Padahal, rapid tes tersebut dibayar sementara alat yang digunakan barang bekas.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Martin Manurung mengaku geram dengan perbuatan petugas PT Kimia Farma Diagnostik.  Martin juga meminta Kementerian BUMN untuk ikut mengawasi dan terlibat dalam proses evaluasi yang dilakukan PT Kimia Farma secara internal.

Bacaan Lainnya

“Evaluasi yang dilakukan Kimia Farma harus dikawal oleh Kementerian BUMN. Harus terang dan jelas. Karena mungkin saja ini tidak hanya terjadi di Bandara Kualanamu,” kata Martin Manurung, Kamis (29/4/2021).

Politisi Nasdem ini juga meminta polisi menindak tegas dan mengusut tuntas kasus tersebut. “Kasus ini harus diusut tuntas. Sejak kapan dilakukan, dan siapa saja pelakunya. Mereka harus diberi hukuman berat,” tegasnya.

Dia mengatakan, peristiwa penggunaan alat test bekas dalam pelayanan rapid tes antigen dapat menciptakan ketidakpercayaan publik terhadap anak perusahaan BUMN di bidang kesehatan itu.
Ia mengingatkan Kementerian BUMN agar bergerak cepat dalam melakukan evaluasi sebelum dampak dari kasus ini semakin meluas.

“Karena ini dapat mengakibatkan public distrust atau ketidakpercayaan publik kepada BUMN. BUMN itu seharusnya menjadi lembaga yang terpercaya dalam penanggulangan dan pencegahan penyebaran virus Covid-19,” ujar Martin.

Sebelumnya, Subdit IV Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Direktorat Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Polda Sumut) menggerebek lokasi terjadinya dugaan pelanggaran UU Tentang Kesehatan di Bandara Internasional Kualanamu Sumatera Utara, pada Selasa (27/04/2021) sore,

Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Sumut Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Hadi Wahyudi mengatakan alasan penggerebekan, yakni karena ada dugaan penyalahgunaan alat rapid test antigen di lokasi layanan tersebut.

“Terkait dengan dugaan daur ulang alat kesehatan yang digunakan untuk rapid test antigen,” kata Hadi.

Direktur Utama PT Kimia Farma Diagnostika Adil Fadhilah Bulqini mengatakan, pihaknya mendukung langkah kepolisian mengusut tuntas kasus tersebut.[man]

 

Pos terkait