Siswa AS Terbukti Bersalah atas Pembunuhan Polisi Italia

  • Whatsapp
siswa-as-pembunuhan-polisi-italia

Monitorindonesia.com – Dua orang siswa AS terbukti bersalah atas kasus pembunuhan anggota kepolisian di Italia setelah proses persidangan selama setahun, Persidangan Rabu (05/05/2021). Mario Cerciello (35 tahun) tewas tertusuk pada saat melakukan investigasi obat terlarang di pusat Roma 2019.

Siswa berkewarganegaraan California Finnegan Lee Elder dan Gabriel Christian Natale –Hjorth dijatuhi hukuman seumur hidup.
Elder telah mengakui bahwa dia menusuk polisi Rega 11 kali tetapi bersikeras bahwa dia melakukan itu sebagai upaya perlawanan karena meyakini polisi tersebut seorang penjahat.

Natale-Hjort (20 tahun) didakwa karena membantu menyembunyikan senjata sebagai alat bukti. Berdasarkan hukum Italia, ikut campur sebagi kaki tangan pelaku juga bisa disanksi dengan dakwaan pembunuhan.

Kedua orang tersebut menegaskan bahwa polisi Rega dan koleganya yang tidak menggunakan seragam kepolisian gagal mempresentasikan diri mereka meskipun polisi lainnya menyangkal ini.

Minggu lalu jaksa penuntut hukum Maria Sabina Calabretta menegaskan bahwa kedua orang itu tersebut memang harus dihukum seumur hidup sebagai hukuman yang pantas buat mereka.

Elder dan Natale-Hjort masih remaja pada saat kasus tersebut terjadi.Pembunuhan polisi Rega menarik perhatian publik di Italia. Pada saat kematiannya, aparat kepolisian yang jadi korban baru saja kembali bekerja setelah berbulan madu.

Sejumlah orang beramai-ramai mendatangi proses pemakamannya di gereja yang sama tempat dia menikah 43 hari sebelumnya.

Elder dan Natale-Hjort sedang berlibur di Roma ketika mereka mencoba membeli kokain di area Trastevere dekat kota Vatikan Juli 2019. Tim penyelidik mengatakan seorang pria bernama Sergio Brugiatelli membantu kedua orang tersebut menemui penjualnya. Tetapi kedua siswa tersebut diduga menghancurkan aspirin bukan obat-obatannya.

Kedua pelaku kemudian mencuri tas ransel Brugiatelli dan meminta uang mereka kembali dan satu gram kokain sebagai gantinya. Pada saat itu menghubungi petugas lain, aparat kepolisian yang menyamar Rega dan koleganya Andrea Varriale tiba di lokasi segera.

Selama terjadi perkelahian Rega ditusuk 11 kali dengan pisau 18 cm yang dibawa Elder dari AS. Polisi mengatakan kemudian mereka menemukan senjata tersebut di belakang panel di ruangan hotel kedua siswa tersebut.

Berdasarkan kesaksian Elder di persidangan Maret lalu, Elder menusuk Rega karena dia takut dia akan dihajar balik. Ada banyak pertanyaan muncul perihal kasus di media AS dan Italia.

Sebuah foto yang beredar menunjukkan Natale-Hjort ditahan dengan mata ditutup pakai kain di kantor polisi. Kolega Rega, Polisi Varriale kemudian menuturkan bahwa dia merekam interogasi Natale-Hjort di HP-nya sumber foto tersebut.

Aparat kepolisian mengatakan dia dan Rega mengidentifikasi mereka pada malam hari. Tetapi siswa AS tersebut mengatakan bahwa mereka tidak melihat bukti bahwa mereka adalah anggota kepolisian. Dan polisi Varriale juga sedang dalam tidak bertugas yang tidak diizinkan membawa senjata pada waktu itu, baik dia maupun Rega tidak membawa senjata yang dianggap melawan prosedur.

Kuasa hukum pembela kedua siswa tersebut juga mempertanyakan setelah diskusi dengan Elder dan kuasa hukumnya muncul di media Italia yang menyarankan dia untuk mengakui perbuatannya. Tetapi kuasa hukum pembela mengatakan bahwa transkrip tidak diterjemahkan dengan baik dan kelihatan ada yang hilang dari percakapan mereka.[Yohana RJ]

 

Sumber: BBC News

Pos terkait