Suara Pembaruan dan Zaman yang Tak Bisa Dilawan

  • Whatsapp
Suara Pembaruan dan Zaman yang Tak Bisa Dilawan

Oleh: Sihol Manullang

Wartawan HU Suara Pembaruan (1987-2000)

Belangan ini makin banyak koran cetak yang “digilas” media online. Setelah sejumlah media cetak, Koran Tempo, Indopos, terakhir adalah koran legendaris yang sudah ada sejak zaman Presiden Soekano, Suara Pembaruan, berhenti cetak sejak 1 Februari 2021.

Untuk memahami bagaimana koran/majalah cetak “dilindas” oleh media online, radio, televisi dan Youtube, mari kita lihat bagaimana perkembangan teknologi menjadi game changer (faktor perubah) percaturan media massa. Teknologi juga mengubah tradisi dan persepsi, menciptakan manusia-manusia baru.

Dalam kondisi demikian itulah media-media cetak akan semakin “kesulitan” karena pangsa pasar iklan sudah didominasi media online. Dari ribuan produk, hanya sebagian sebagian kecil saja yang masih cocok dimuat di media cetak.

Analog Digantikan Digital

Dalam sebuah buku tentang investor kawakan George Soros yang terbit awal 1990-an, antara lain bertutur, bagaimana Soros meneliti masa depan sejumlah operator telepon selular (ponsel) analog di Amerika, khususnya perusahaan terbuka (listing company). Kesimpulan Soros: analog segera “tewas” lalu digantikan digital.

Motorola (Amerika Serikat), setelah 1973 melucurkan ponsel generasi pertama, Oktober 1983 meluncurkan Advanced Mobile Phone System (AMPS), yang kemudian menjadi barang murah di Amerika.

Ponsel pertama di Indonesia adalah Nordic Mobile Phone (NMT), dengan operator PT Komselindo, sejak tahun 1984. NMT dikembangkan Swedia sejak tahun 1981. NMT-AMPS masih sama-sama analog. Bedanya, ukuran telepon AMPS lebih kecil. NMT teknologi Eropa, AMPS teknologi Amerika.

Menurut Soros, keuntungan perusahaan operator ponsel analog akan semakin rendah dan harga sahamnya akan tak berharga, hingga akhirnya tutup sendiri. Analog akan digantikan digital yang jauh lebih unggul dari kualitas dan harga.

Ketika harga saham-saham operator analog merosot mendekati nol, pada saatnya akan dikeluarkan dari pasar modal. Lalu Soros lalu meminjam saham dan mengambil posisi jual. Setelah harga saham merosot jauh, barulah dia beli kembali (buy back). Soros untung besar. Di Amerika, posisi short, adalah legal.

Menggantikan AMPS, ponsel digital Amerika adalah Code Division Multiple Access (CDMA), diluncurkan 1995. Secara resmi, hidup AMPS di Amerika Serikat berakhir 18 Februari 2008. Di Australia malah AMPS sudah dihentikan sejak September 2000.

Teknologi baru digital telah mengalahkan dan mengubur analog. Kini tak ada lagi operator analog. Perangkat keras ponsel analog hanya tersisa di museum. Generasi muda sekarang, mayoritas tak tahu lagi ponsel analog.

Seiring penemuan Global System for Mobile Communication (GSM) hasil konsorsium bebeberapa negara di Eropah, yang berkembang hingga menjadi canggih seperti sekarang, NMT Komselindo “disalib” Satelindo yang mengoperasikan GSM. Kemudian Telkomsel hadir.

Jika Satelindo  “dibidani” Deutch  Telekom Mobile (DT Mobile) Jerman, Telkomsel “dibidani” PTT Telecom Nederland (Belanda). Telkomsel tidak meniru Satelindo yang memulai operasi dari Jakarta.

Telkomsel memulai operasi dari daerah, Batam. Setelah ke banyak daerah, baru ke Jakarta. Jika Telkomsel juga memulai operasi dari Jakarta, mungkin tak akan cepat menjadi nomor satu.

Teknologi & Pasar

Ketika belum semua daerah bisa menikmati teknologi ponsel digital 4G, kini sudah muncul 5G. Teknologi 1G yang hanya bisa suara, dan 2G suara dan pesan pendek (SMS), akan tinggal kenangan.

Perusahaan yang tidak mengikuti teknologi dan pasar, akan tutup sendiri. Beberapa operator ponsel di Indonesia sudah mengalaminya. Tak ada pilihan lain, zaman memang tak bisa dilawan.

Perusahaan teknologi seperti PT Indosat Tbk, kalau tidak menyesuaikan diri dengan zaman, mungkin sudah tutup. Pada awalnya, bisnis utama Indosat adalah telepon internasional.

Indosat beradaptasi menjadi operator GSM (termasuk tukar-menukar saham Satelindo-Telkomsel dengan PT Telkom). Orang tak butuh lagi telepon internasional, karena layanan data melalui ponsel akan lebih murah.

Sekarang kita bisa telepon ke luar negeri dengan biaya yang sangat murah melalui Whatsapp, Telegram, Line, Signal dan banyak lagi.

Rejim lalim/diktator pun tak bisa melawan zaman. Jerman bersatu, Uni Soviet bubar, rejim-rejim komunis Eropa Timur sudah terkubur. Tiongkok, berubah menjadi negara kapitalis, pasar bebas.

Umur rejim diktator bisa dipastikan tidak lama lagi. Bukan hitungan ratus tahun, tetapi generasi, bahkan mungkin tak sampai satu generasi lagi.

Semua dalam Daring

Dulu, jika mengirim uang dari desa ke kota, melalui kantor pos. Untuk menemukan kantor pos, tak jarang mesti ke ibukota kabupaten. Sekarang, semua bisa selesai dari ponsel.

Dulu kirim uang antarbank masih memerlukan kliring yang waktunya lebih dari sehari, sekarang sudah terkirim pada detik yang sama.

Bahkan transfer antarbank Real Time Gross Settlement (RTGS) pun sudah digantikan Real Time Online (RTO). Semua ada di genggaman kita. Beli apa-apa tak mesti keluar, semua sudah serba data dalam jaringan (daring).

Teknologi juga menciptakan realitas baru, dan pada akhirnya juga membentuk manusia baru. Sebelum ada ponsel, telepon hanya di suatu tempat (rumah/kantor). Menelepon, berarti kita menghubungi sebuah tempat (some place). Di tempat (rumah/kantor) itu, bisa siapa saja.

Tetapi menghubungi sebuah ponsel, kita bukan lagi menghubungi sebuah tempat, tetapi menghubungi seseorang (some one), yang kita tidak tahu sedang berada di mana. Teman kita yang tinggal di negara lain, bisa tiba-tiba saja menelepon kita karena dia sudah di pintu rumah kita.

Kisah nyata yang kini menjadi lucu, ketika penulis (masih sebagai wartawan Suara Pembaruan), awal 1990-an menerjemahkan sebuah tulisan/feature dari kantor berita. Waktu itu teknologi GSM sudah ditemukan, tetapi belum diluncurkan.

Istilah roaming (jelajah) belum akrab untuk ponsel. Maka tulisan asli tidak mengatakan roaming, tetapi: “Sebuah teknologi baru akan segera diluncurkan, sebuah nomor akan bisa digunakan di seluruh dunia, tanpa perlu berganti-ganti nomor…”

Surat kabar & Majalah

Jika tahun 1990-an Soros sudah membuktikan ponsel analog akan digantikan digital, surat kabar dan majalah cetak mengalami nasib yang kurang lebih sebanding.

Sebelum harian pagi dan majalah, surat kabar sore di seluruh dunia pertama-tama dilibas radio frequency modulation (FM) dan televisi. Siaran langsung radio-TV “membunuh” surat kabar sore.

Majalah dan harian pagi, “dibunuh” oleh portal berita online. Tak perlu lagi setel radio dan televisi, portal berita dari mana saja bisa kita baca dari mana saja. Bahkan pengetahuan bahasa asing tak mutlak lagi untuk membaca terbitan asing, fasilitas terjemahan online bisa membantu.

Akhir tahun 1990-an, banyak harian sore di Amerika dan Eropa yang sudah berhenti cetak. Kemajuan radio dan televisi di sana, sudah membuka zaman baru. Pasar, mengikuti trend. Perolehan iklan sudah didominasi media online, dan porsi mereka makin lama makin besar.

Setelah harian sore, menyusul majalah dan harian pagi, banyak yang berhenti cetak. Pertama-tama di Amerika, karena di sanalah online termaju. Tersohor adalah majalah Newsweek,  setelah 80 tahun berkibar, mengakhiri edisi cetaknya akhir 2012, menjadi online: Newsweek Global sejak 2013.

Reader’s Digest  lebih tua lagi,  berusia 91 tahun, berakhir pada pertengahan Februari 2013. Menjadi online saja. Banyak media cetak Amerika yang digilas portal berita.

Pun di Indonesia, ada sejumlah harian pagi yang berhenti cetak. Terakhir adalah harian Indopos, menyusul Koran Tempo dan beberapa media lagi.

Demikian juga Suara Pembaruan tercinta. Terpaksa berhenti cetak mulai 1 Februari 2021, karena tidak ekonomis. Setelah prospek harian sore meredup, sebetulnya sudah berubah menjadi harian pagi sejak 13 Januari 2020. Tapi pasar sudah terlanjur sangat sengit, iklan semakin dikuasai media online, termasuk televisi dan Youtube.

Iklan laksana darah bagi media yang harus menggaji karyawan secara layak. Kalau tak ada iklan, hidup hanya menghitung hari, kemudian berhenti. Memang sedih. Tetapi keberpihakan pada kebenaran membuat komitmen semua mantan wartawan Pembaruan untuk melayani pembaca dan Republik ini, akan terus. Tugas itu termasuk diemban www.monitorindonesia,com yang didirikan mantan wartawan Pembarun.

Selamat kepada kawan-kawan mantan wartawan Pembaruan yang tetap berkarya melayani republik ini melalui www.monitorindonesia.com  NKRI adalah harga mati, melayani pembaca di Republik ini adalah kewajiban kita sebagai wartawan.

 

Selamat untuk www.monitorindonesia.com. Selamat berkarya untuk Republik. ***

 

Catatan penulis:

Sebagian isi tulisan ini, telah dimuat dalam edisi terakhir Suara Pembaruan cetak, Jumat 29 Januari 2021, halaman 6.

 

Pos terkait