Nomor Telepon Sujanarko dan Novel Baswedan Diduga Diretas

  • Whatsapp
Nomor Telepon Sujanarko dan Novel Baswedan Diduga Diretas
Ilustrasi Pencurian data

Monitorindonesia.com – Nomor telepon Direktur Pembinaan Jaringan Kerja Antar-Komisi dan Instansi (PJKAKI) KPK, Sujanarko dan Novel Baswedan diduga diretas. Kedua nomor telepon kedua orang tersebut secara tiba-tiba membuat akun Telegram.

“Info teman-teman itu ada notifikasi nama saya di Telegram. Nomornya nomor saya. Bang Novel juga (tiba-tiba terdaftar di Telegram),” ujar Sujanarko kepada wartawan, Kamis (20/5/2021) malam.

Bacaan Lainnya

Sujanarko menduga peretasan tersebut terkait dengan sikapnya dan 74 pegawai KPK lainnya yang mengadukan nasibnya ke Ombudsman RI kemarin.

“Kayaknya ada yang mulai nyerang lagi deh. Motifnya enggak tahu. (Peretasan) baru pukul 20.30 WIB ada yang masuk. Nomornya sama,” ucap dia.

Novel melalui akun Twitternya juga menyampaikan adanya dugaan peretasan terhadap akun Telegram-nya.

“Pengumuman Akun Telegram saya dibajak sejak pukul 20.22 WIB hari ini shg tdk lg dibawah kendali saya. Akun Telegram Pak Sujanarko sejak pukul 20.31 WIB juga dibajak shg tdk dlm kendali ybs. Bila ada yg dihubungi gunakan akun tsb, itu bukan kami,” kata Novel melalui akun Twitter miliknya.

Dugaan peretasan juga dialami delapan aktivis Indonesia Corruption Watch (ICW) dan anggota Lokataru Foundation serta Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta. Para aktivis antikorupsi itu belakangan aktif mengadvokasi 75 pegawai yang dibebastugaskan dan mengkritik pelaksanaan TWK dan SK 652 Tahun 2021 yang dinilai sebagai alat untuk menyingkirkan sejumlah pegawai KPK.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan, Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) ala Badan Kepegawaian Nasional (BKN) terhadap 75 pegawai KPK yang tidak lolos tes tidak serta merta dijadikan dasar untuk memberhentikan pegawai KPK.

Presiden Jokowi menegaskan KPK harus memiliki sumber daya manusia (SDM) terbaik dan berkomitmen tinggi dalam upaya pemberantasan korupsi. Oleh karena itu, pengalihan status pegawai KPK menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) harus menjadi bagian dari upaya untuk pemberantasan korupsi yang lebih sistematis.

“Hasil tes wawasan kebangsaan terhadap pegawai KPK hendaknya menjadi masukan untuk langkah-langkah perbaikan KPK, baik terhadap individu-individu maupun institusi KPK, dan tidak serta merta dijadikan dasar untuk memberhentikan 75 pegawai KPK yang dinyatakan tidak lolos tes,” ujar Presiden Jokowi saat memberikan keterangan pers di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/5/2021).

Ia mengatakan, apabila dianggap ada kekurangan masih terbuka peluang untuk memperbaiki melalui pendidikan kedinasan tentang wawasan kebangsaan dan perlu segera dilakukan langkah-langkah perbaikan pada level individu maupun organisasi.

“Saya sependapat dengan pertimbangan Mahkamah Konstitusi dalam putusan pengujian Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua Undang-Undang KPK yang menyatakan bahwa proses pengalihan status pegawai KPK menjadi ASN tidak boleh merugikan hak pegawai KPK untuk diangkat menjadi ASN,” katanya.

Presiden Jokowi meminta kepada para pihak yang terkait, khususnya pimpinan KPK, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, dan Kepala Badan Kepegawaian Negara untuk merancang tindak lanjut bagi 75 pegawai KPK yang dinyatakan tidak lulus tes dengan prinsip-prinsip kebangsaan.

Sebagaimana diketahui, 75 pegawai KPK yang didominasi penyidik senior dinyatakan BKN tak lolos tes kebangsaan. Sesuai Revisi UU KPK, seluruh pegawai KPK beralih status menjadi ASN.[Lin]

#Sujanarko
#Novel Baswedan

Pos terkait