Syria Selenggarakan Pemilihan Presiden Kedua Sejak Konflik 2011

  • Whatsapp
Syria Selenggarakan Pemilihan Presiden Kedua Sejak Konflik 2011

Syria, Monitorindonesia.com – Syria menyelenggarakan pemilihan presiden kedua Rabu(26/05/2021) sejak perang sipil yang terjadi di tahun 2011, meskipun dugaan dari seluruh dunia terhadap tempat pengumpulan suara tidak bebas dan adil. Ada dua calon bersaing dengan mantan Presiden Bashar al-Assad, yang telah menjabat tahun 2000 setelah kematian ayahnya, yang menjabat sangat lama Hafez al-Assad.

Stasiun TV nasional Syria mewawancarai koresponden di berbagai wilayah Syria Rabu (26/05/2021) menunjukkan setidaknya puluhan TPS tampak di layar sepanjang hari. Warga Syria di hampir semua wilayah berhak untuk memilih terkecuali keturunan Kurdi yang di wilayah utara dan ketrunan Turki di wilayah perbatasan.

Presiden Bashar al-Assad dan istrinya Asmaa, tampak sedang mengikuti pemilu di pinggiran kota Damascus. Presiden Assad juga menentang kritik para negara barat perihal pemilu Syria yang tidak bebas dan adil.

Dia mengatakan bahwa sebagai suatu negara Syria tidak mempercayai atas apa yang dituduhkan para negara barat tetapi lebih penting apa menurut warga negaranya. Demonstrasi yang terjadi dalam minggu – minggu terakhir merupakan respon yang cukup dan jelas untuk menyatakan bahwa apa yang dituduhkan negara barat tersebut kosong dan tak berarti.

Media Arab yang berlawanan dengan pemerintahan Syria menunjukkan video yang menampilkan sejumlah demonstran yang berkumpul sangat banyak di wilayah Selatan Daraa dimana revolusi 2011 dimulai yang meminta pemecatan pemecatan pemerintahan Presiden Assad.

Juru bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan kepada pers media asing bahwa pemerintahan Syria tidak mengikutis resolusi PBB 2254 yang meminta konstitusi baru untuk negaranya dimana pelasanaan pemilihan umum diawasi oleh PBB.

“Mandate Resolusi PBB 2554 bahwa PBB memfasilitasi proses politik yang bertujuan untuk pelaksanaan PEMILU yang bebas dan adil menurut ketentuan konstitusi yang baru di bawah pengawasan PBB,” tuturnya.

Presiden Assad bersaing dengan dua calon presiden lainnya. Tidak satupun dari kedua calon tersebut diharapkan bisa mengumpulkan 5% suara. Presiden Assad memenangkan 89% dari total suara pemilh pada saat PEMILU 2014. Dia telah menjabat sebagai presiden sejak kematian ayahnya, Kepala Veteran Syria Hafez al-Assad yang menjabat jadi presiden pada tahun 1970.

Media pendukung Presiden Assad, Boutheina Sha’aban mempertahankan pemilihan tersebut dalam sebuah wawancara dengan media Arab yang mengatakan bahwa negara-negara yang mengkritik hasil pemilu merupakan negara yang sama yang mendukung dan membiayai para teroris sejak 2011 dan ingin melihat Syria memasuki kekosongan konstitusi sehingga usaha mereka sia-sia selama perang.

Dia mengatakan bahwa Arab Saudi dan negara teluk lainnya tidak senang karena AS lebih sibuk dengan urusan Cina dan Rusia daripada Timur Tengah dan AS akan melanjutkan hubungannya dengan Damascus yang dia yakini sebagai tulang punggung atau kekuatan Arab.

Paul Sullivan, seorang Profesor di Universitas Pertahanan Nasional AS di Washington mengatakan ke VOA bahwa pemilihan umum tersebut pada dasarnya cacat.

“Ini merupakan penobatan diktator,” dia mengatakan. “Saya tidak dapat memandang pemilihan ini sebagai pesta demokrasi yang menyisakan mimpi buruk bagi negara Syria, pemerintahan diktator Presiden Assad nampaknya memiliki kesempatan. [Yohana RJ] memenangkan dengan suara terbanyak 95%.”
VOA 27.05.2021

Pos terkait