Teror Marak, Anggota Komisi I DPR Ini Sebut Deradikalisasi Gagal

  • Whatsapp
Teror Marak, Anggota Komisi I DPR Ini Sebut Deradikalisasi Gagal
TB Hasanuddin.[dpr.go.id]

Monitorindonesia.com – Program deradikalisasi dinilai gagal. Padahal, anggaran deradukalisasi mencapai triliunan rupiah.

Hal itu dikatakan Anggota Komisi I DPR RI Mayjen TNI (purn) TB Hasanuddin di Jakarta, Sabtu (3/4/2021). Menurut TB Hasanuddin, paham radikalisme dan terorisme di Indonesia kini tumbh subur dan hal itu dibuktikan salam sepekan terakhir aksi teroris terjadi di Gereja Katedral Makassar dan Mabes Polri.

“Saya sepakat operasi deradikalisasi di Indonesia itu gagal. Padahal, saya catat anggaran deradikalisasi itu mencapai trilyunan rupiah,” kata TB Hasanuddin.

Menurut dia, salah satu penyebab kegagalan operasi deradikalisasi itu adalah metode dan teknik yang dilakukan tersebar di Kementerian dan lembaga bahkan di beberapa organisasi kemasyarakatan. Sehingga, deradikalisasi yang dilakukan tidak terarah dan kerap terjadi duplikasi.

TB hasanuddin mengatakan, kebijakan tehnik deradikalisasi harus dirombak. “Jangan lagi memposisikan seperti “menggurui” dengan mengatakan kalian yang radikal dan kami yang benar. Kita harus bisa masuk diantara mereka, bergaul dengan mereka dan bicara dari hati ke hati,” katanya.

Dia juga mengungkapkan rasa keprihatinannya lantaran penyebar paham radikalisme kini menyasar kaum milenial yang notabene masih dalam proses pencarian jati diri. Saat ini, lanjut dia, banyak kaum milenial yang terpengaruh dengan provokator dahsyat yang mengatasnamakan agama.

Bahkan, menggerakkan kaum muda menjadi “pengantin”, menjadi bomber dengan janji surga. Sementara para provokator duduk manis menikmati kehidupan dunia.

“Kenapa tidak mereka saja yang duluan memberi contoh masuk surga?,” ucapnya.

TB Hasanuddin juga tak sepakat istilah Lone Wolf karena teroris tidak tumbuh dengan sendirinya secara otomatis. Menurutnya, teroris akan tumbuh ditempat yang situasinya mendukung, berkembang karena komunikasi sosial yang khusus dengan orang-orang tertentu.
“Dia tumbuh karena ada yang membina bahkan dia punya idola sendiri. Bahwa dia bergerak sendiri (lone) ya ini kebutuhan taktis saja,” jelasnya.[man]

Pos terkait