Tersangka Pembunuhan Ahmad Arbery Disanksi Kriminal Asas Kebencian

  • Whatsapp
Tersangka Pembunuhan Ahmad Arbery Disanksi Kriminal Asas Kebencian

Georgia, Monitorindonesia.com – Tiga orang tersangka telah didakwa oleh Hakim Agung atas kejahatan kebencian dan percobaan penculikan atas penembakan mematikan dengan korban Ahmaud Arbery.

Gregory McMichael, putranya Travis McMichael dan tetangganya William Bryan sedang menunggu persidangan di Georgia atas dakwaan pembunuhan.

Ahmad Arbery, seorang pria berkulit hitam tanpa senjata sedang lari sore pada Februari 2020 ketika dia dihadang oleh tiga pria berkulit putih. Pembunuhannya dan tindak lanjut penanganan polisi memicu protes khalayak ramai.

Dalam sebuah pernyataan dari kantor pengacara AS di wilayah selatah Georgia terungkap bahwa ketiga terdakwa diduga ikut campur atas hak penggunaan fasilitas umum karena rasnya. Mereka juga dituduh tanpa dasar hukum mencoba menahan dan membatasi Arbery dengan memaksa masuk ke truk mereka untuk mencoba menahannya.
Gregory McMichael (65 tahun) dan putranya Travis (35 tahun) dituntut berlapis karena menggunakan, membawa dan mengacungkan sebuah senjata api. Travis juga dituntut karena melakukan penembakan.

Ketiga tersangka telah mengajukan prasangka tidak bersalah atas tuntutan yang dikeluarkann oleh dewan hakim Georgia Juni lalu pembunuhan kedengkian, tindak pidana pembunuhan, penyerangan yang mematikan, penjara palsu dan tindak kriminal percobaan pembunuhan.

Ahmaud Arbery sedang berlari di kota pinggiran pantai Brunswick lari sore pada 23 Februari 2020 ketika dia dikejar oleh McMichaels. Mereka mengaku bahwa Arbery mirip dengan pelaku serangkaian perampokan di daerah tersebut.

Video dari HP kemudian muncul yang menunjukkan Arbery sedang berlari melewati pengambilan stasioner sebelum berhadapan dengan salah satu mereka di dalam truk. Teriakan dan tembakannya diredam.

Selama lebih dari dua bulan, polisi tidak melakukan penahanan ketiga tersangka sampai kasus penembakan menyebar dan menarik perhatian media nasional dan memicu kemarahan publik.[Yohana RJ]

Sumber: BBC News

Pos terkait