Tiga Kali Revisi Pertumbuhan Ekonomi,  DPR Kritik BI

  • Whatsapp
Tiga Kali Revisi Pertumbuhan Ekonomi,  DPR Kritik BI
Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Hafisz Thohir

Jakarta, Monitorindonesia.com – Langkah Bank Indonesia (BI) memangkas pertumbuhan ekonomi 2021, menjadi kisaran 4,1 hingga 5,1 persen dikritik DPR. Salah satu alasan BI memangkas, karena ekspektasi konsumen dan penjualan eceran masih tumbuh secara terbatas.

“Hal ini yang pernah saya pernah cemaskan, jika vaksinasi tidak tercapai maka dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Sehingga asumsi makro tidak dapat berjalan baik,” kata Anggota Komisi XI DPR Achmad Hafisz Thohir kepada wartawan di Jakarta, Rabu (21/4/2021).

Hafisz menilai dengan koreksi target pertumbuhan tersebut semua akan ikut berubah. “Pelan pelan asumsi makro tersebut mulai di koreksi (cenderung turun),” ucapnya.

Hafisz mengungkapkan Indonesia sendiri memiliki leverage tinggi serta pasar terbesar di ASEAN. Karena menguasai setengah dari populasi di wilayah ASEAN.

Hal ini menjadikan Indonesia sebagai regional leader sehingga berpengaruh bagi perekonomian regional maupun dunia. “Sehingga vaksinasi ini sangat penting, karena ketika program itu tidak mencapai target, maka semua asumsi makro kita akan drop,” katanya.

Hafisz mengaku dapat memaklumi keputusan BI merevisi target pertumbuhan dengan berbagai pertimbangan. “Jadi saya sangat memahami jika World Bank dan Bank Sentral Indonesia mengoreksi angka pertumbuhan, karena ekonomi RI tidak akan banyak bergerak jika Pandemi Covid-19 belum dituntaskan,” terangnya

Diakui Hafisz, indikator-indikator perekonomian nasional tampaknya saat ini belum memperlihatkan pergerakan yang significant “Saya melihat Retail dan konsumsi belum menunjukkan pertumbuhan,” katanya.

Disisi lain, Wakil Ketua BKSPA ini memahami bahwa ekonomi akan bergerak mengikuti perbaikan kondisi pandemi, dimana saat ini Indonesia masih tertahan pada angka 4% vaksinasi dari total pnduduk.

“Bandingkan dengan Amerika Serikat yang sudah melampaui 100 juta lebih peduduknya yang sudah tervaksinasi (40%). Sementara Eropa sepakat menargetkan mencapai 70% dari jumlah penduduknya pada September 2021 bisa tervaksinasi,”katanya.

BI memutuskan untuk kembali merevisi perkiraan pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2021, menjadi kisaran 4,1 hingga 5,1 persen. Awalnya BI memproyeksikan ekonomi Indonesia tahun ini bakal tumbuh di kisaran 4,8 hingga 5,8 persen, kemudian dipangkas 4,3 hingga 5,3 persen, dan kini menjadi kisaran 4,1 hingga 5,1 persen.

“Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan 2021 akan berada pada ksiaran 4,1 persen sampai dengan 5,1 persen,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo, Selasa (20/4/2021).

Meskipun demikian, Perry mengatakan, perekonomian Indonesia kini sudah berada dalam tren perbaikan. Hal tersebut terefleksikan dengan terus membaiknya kinerja ekspor, yang ditopang oleh komoditas andalan seperti minyak kelapa sawit, bijih logam, kendaraan bermotor, dan besi baja.

Penguatan ekspor juga didorong oleh meningkatnya permintaan dari negara mitra dagang utama Indonesia, yakni Amerika Serikat dan China. “Volume perdagangan dan harga komoditas dunia juga terus meningkat, sehingga mendukung kinerja ekspor negara berkembang yang lebih tinggi termasuk Indoesia,” ujar Perry.[bng]

Pos terkait