Tragedi KRI Nanggala-402 Bisa Dihindari, Bila Ada Perhatian ke TNI AL dari Kemhan

  • Whatsapp
Tragedi KRI Nanggala-402 Bisa Dihindari, Bila Ada Perhatian ke TNI AL dari Kemhan

Monitorindonesia.com – Tragedi tenggelamnya KRI Nanggala-402 di perairan Bali, seharusnya dapat dihindari apabila Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto memberi perhatian yang cukup kepada TNI Angkatan Laut RI, terkait dari postur dan alokasi anggaran Kementerian Pertahanan (Kemhan).

Demikian dikatakan Ketua Umum DPP Gerakan Mahasis Nasional Indonesia (GMNI), Arjuna Putra Aldino dalam keterangan tertulisnya, Senin (26/4/2021), menanggapi tragedi KRI Nanggala-402.

Karena itu, GMNI meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk melakukan evaluasi terhadap kinerja Menhan Prabowo Subianto. Pasalnya, tragedi tenggelamnya KRI Nanggala 402 sangat bertolak belakang dengan anggaran Kemhan yang terus merangkak naik dari tahun ke tahun.

“Tragedi tenggelamnya KRI Nanggala-402 adalah berita duka bagi bangsa Indonesia. Namun ini bertolak belakang dengan anggaran Kementerian Pertahanan yang terus naik. Seharusnya tidak terjadi. Untuk itu, Presiden perlu evaluasi kinerja Menhan,” katanya.

Arjuna menyampaikan Kemhan mendapatkan anggaran tertinggi dalam APBN 2020 mencapai Rp131,2 Triliun. Alokasi anggaran ini melonjak Rp21,6 Triliun dari tahun 2019 Rp109,6 Triliun maupun usulan awal RAPBN 2020 sebesar Rp127,4 Triliun. Namun, ia menyoroti alokasi anggaran antar matra masih mengalami ketimpangan, dimana pada APBN 2020 TNI AD mendapat anggaran Rp55,92 Miliar dengan alokasi alutsista sebesar Rp4,5 Miliar. TNI AL punya bagian Rp22,08 miliar dan alokasi alutsista Rp4,1 Miliar. Sedangkan TNI AU memperoleh dana Rp15,5 Miliar dan alokasi alutsista Rp2,1 Miliar.

‘TNI Angkatan Laut kita belum mendapatkan prosi anggaran yang cukup. Belum mendapat perhatian yang optimal. Padahal visi pertahanan Presiden Jokowi menjadikan Indonesia menjadi poros maritim dunia. Artinya Menhan tidak mampu menerjemahkan visi-misi Presiden di bidang pertahanan. Dapat dilihat dari postur dan alokasi anggaran,” tambahnya lagi.

Selain itu, Arjuna juga menekankan seringkali serapan anggaran Kementerian yang dipimpin oleh Prabowo Subianto ini dinilai kerap jauh di bawah target. Masalahnya kementerian pertahanan adalah penerima anggaran terbesar dalam APBN. Artinya, dibawah Prabowo Subianto performa penyerapan anggaran Kemenhan jauh dibawah standar ideal.

“Berdasarkan informasi Kementerian Keuangan, pada tahun anggaran 2019, masih ada Rp19 Triliun tidak terserap (unspent). Artinya, masih ada gap antara perencanaan dan eksekusi deliverynya. Ditahun 2019, ada Rp19 Triliun anggaran Kemenhan tidak terserap. Artinya, ada gap antara perencanaan dan eksekusinya. Sangat disayangkan, punya ide besar, tapi eksekusi kerjanya nol besar,” papar dia.

Arjuna juga menyoroti adanya pencairan Penyertaan Modal Negara (PMN) 2021 sebesar Rp1,28 Triliun kepada PT PAL yang merupakan perusahaan plat merah galangan kapal terbesar di Indonesia yang telah disetujui oleh Komisi Keuangan dan Perbankan DPR RI.

PMN tersebut guna mendukung pembangunan fasilitas produksi kapal selam dan pengadaan peralatan pendukung produksi kapal selam. Menurut Arjuna, optimalisasi PMN harus menjadi perhatian pemerintah sehingga benar-benar digunakan untuk pemeliharaan dan perawatan kapal selam.

“PT PAL mendapat PMN sebesar Rp1,28 Triliun di tahun ini. Seharusnya kinerja pemeliharaan dan perawatan kapal selam bisa meningkat. Bukan malah terjadi tragedi. Kami kira ini perlu di evaluasi secara menyeluruh oleh Presiden. Untuk kebaikan bersama, terutama untuk performa pertahanan kita dan itu kaitannya dengan wibawa bangsa Indonesia di mata dunia,” demikian Ketum PP GMNI. (Ery)

Pos terkait