Twitter Luncurkan Emoji ‘Milk Tea Alliance’ Gerakan Kemajuan

  • Whatsapp
Twitter Luncurkan Emoji ‘Milk Tea Alliance’ Gerakan Kemajuan

Monitorindonesia.com – Media sosial Twitter meluncurkan sebuah emoji untuk Aliansi Teh Susu ‘Milk Tea Alliance’ pada hari Kamis (08/04/2021) sebagai gerakan online pro-demokrasi secara global yang mempersatukan para pendukung anti-Beijng di Hong Kong dan Taiwan bersama dengan para pengunjuk rasa dari Thailand, Myanmar dan negara lainnya.

Para aktivis menyambut pengumuman peluncuran emoji – sebuah cangkir putih dengan tiga warna latar belakang yang mempresentasikan bayangan berbeda dari the susu di Thailand, Hong Kong dan Taiwan untuk perayaan satu tahun gerakan tersebut.

Milk Tea Alliance muncul dari perang di twitter yang meledak setelah nasionalis Cina menuduh aktor muda Thailand dan pasangannya mendukung demokrasi di Hong Kong dan kemerdekaan Taiwan. Diberi nama itu setelah minum teh manis bersama di tiga tempat.

Penggunaan tagar kembali mencuat pada bulan Februari setelah kasus kudeta militer di Myanmar dimana para pendemo menggunakan tagar tersebut untuk mengumpulkan dukungan secara regional.

“Kami telah melihat lebih 11 juta cuitan dengan menggunakan tagar #MilkTeaAlliance dalam satu tahun terakhir” Twitter mengumumkan bahwa tagar tersebut menjadi trending teratas di Thailand, Hong Kong dan Taiwan pada Kamis (08/04/2021).

Sebelumnya, Twitter meluncurkan emoji untuk gerakan #MeToo dan #BlackLivesMatter.
Emoji Twitter menujukkan pengakuan global dan menawarkan kredibilitas lebih besar terhadap gerakan anak muda, tutur seorang aktivis terkemuka Thailand, Netiwit Chotiphatphaisal, merupakan salah satu pemimpin aliansi tersebut.

“Hal ini penting karena bisa menunjukkan pada kawula muda yang sedang memperjuangkan demokrasi bahwa seluruh dunia mendukung mereka dan apa yang mereka lakukan berdampak,” Netiwit mengatakan kepada Reuters. “Ini adalah awal dari online aktivisme bisa berdampak lebih jauh lagi”

Twitter diblokir di China dan gerakan pendukung oposisi Beijing lainnya sepertinya tidak mempengaruhi bisnis, tutur James Buchanan, seorang dosen di Bangkok’s Mahidol University, kampus internasional.
“Twitter berhasil mengumpulkan banyak orang muda di pasar Asia yang terbuka untuk mereka” tambahnya.[Yohana RJ]

Sumber : Reuters

Pos terkait