WTO Usulkan Perjanjian Internasional soal Kesetaraan Vaksin

  • Whatsapp
WTO Usulkan Perjanjian Internasional soal Kesetaraan Vaksin
Illustrasi vaksin

Monitorindonesia.com – Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) menyerukan agar negara anggotanya membuat perjanjian internasional unntuk memastikan akses yang setara atas vaksin Covid-19 di tengah kebuntuan pembahasan soal hak paten vaksin.

“Bagaiman cara WTO menangani masalah ini sangat penting,” kata Dirjen WTO, Ngozi Okonjo-Iweala kepada perwakilan negara yang mengambil bagian dalam pertemuan Majelis Umum WTO.  Lembaga itu merupakan pembuat keputusan utama organisasi tersebut.

“Kita perlu memiliki rasa urgensi tentang bagaimana kita menghadapi Covid-19 karena dunia sedang menonton,” katanya seperfi dikutip ChannelNewsAsia.com, Kamis (6/5/2021).

Dia mengharapkan akses yang adil atas vaksin untuk memerangi pandemi merupakan masalah moral dan ekonomi negara.
Badan perdagangan global itu selama berbulan-bulan menghadapi seruan yang dipimpin oleh India dan Afrika Selatan untuk sementara waktu menghapus perlindungan kekayaan intelektual pada vaksin Covid-19.

Langkah itu akan membantu meningkatkan produksi di negara-negara berkembang yang sejauh ini menerima suntikan yang jauh lebih sedikit, katanya.

Okonjo-Iweala, yang menjadi wanita pertama dan orang Afrika pertama yang memimpin WTO pada 1 Maret mengatakan bahwa semua negara perlu menyetujui jalur bersama yang akan membantu menyelesaikan masalah ketidaksetaraan akses ke vaksin.

“Kebijakan vaksin adalah kebijakan ekonomi karena pemulihan ekonomi global tidak dapat dipertahankan kecuali kita menemukan cara untuk mendapatkan akses yang adil terhadap vaksin, terapi, dan diagnostik,” katanya.

Sementara itu, posisi tentang pengilngan hak paten tetap terbagi, kata juru bicara WTO Keith Rockwell kepada wartawan.

“Semua pihak memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk meningkatkan produksi dan meningkatkan efisiensi serta pemerataan proses distribusi,” katanya.

Dia menambahkan bahwa lebih dari 40 perwakilan negara yang berbicara dalam pertemuan tersebut sepakat “bahwa vaksin tidak mencukupi akibat semakin berkembangnya dunia.” [Yohana RJ]

 

Sumber : ChannelNewsAsia.com

Pos terkait