Semua Capres-Cawapres Harus Diperiksa! Politikus NasDem Singgung Kasus Formula E, e-KTP dan Food Estate

Jakarta, MI - Tak ada alasan aparat penegak hukum (APH) untuk tidak memeriksa calon presiden dan wakil presiden yang didugaa terlibat kasus dugaan korupsi menjelan pemilu 2024.
Hal ini ditegaskan oleh Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni merespons pemriksaan Ketua Umum (Ketum) PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Kamis (7/9) kemarin.
Pemeriksaan itu bertepatan dengan momentum dirinya yang dideklarasikan sebagai bakal calon wakil presiden (bacawapres), mendampingi bakal calon presiden (bacapres) Anies Baswedan.
Kata politikus partai Nasional Demokrat (NasDem) itu, bahwa langkah ini untuk memastikan bahwa setiap pasangan calon yang maju, benar-benar bersih dari kasus korupsi.
“Sebagai Pimpinan Komisi III sekaligus anggota partai, saya meminta KPK sekalian membuat program pemeriksaan terhadap semua capres dan cawapres," kata Sahroni kepada wartawan, Jum'at (8/9).
"Karena menurut saya, demi menjaga kredibilitas KPK dan persepsi publik, hal-hal seperti ini memang perlu dilakukan oleh KPK,” tambahnya.
Sahroni pun berharap, nantinya ketika sudah resmi menjadi capres dan cawapres, tidak ada lagi kasus-kasus yang masih disangkutpautkan kepada para pasangan calon.
“Setelah semuanya diperiksa, KPK nanti bisa berikan clearance dan closure, umumkan saja apakah ada yang terlibat atau tidak. Agar nanti saat kampanye, hal-hal seperti ini tidak lagi disangkutpautkan, dan kembali menjadi persoalan di publik," bebernya.
"Karena sampai sekarang kan masih duga menduga, mau itu Anies dengan Formula E, Ganjar dengan e-KTP, Prabowo dengan Food Estate, dan sebagainya,” lanjutnya.
Sahroni ingin KPK dapat mempertimbangkan usulannya itu. Karena dirinya menilai, ini akan menjadi langkah yang fair bagi seluruh pihak dan tentunya baik untuk publik.
“Jadi kita dorong agar KPK mau eksekusi langkah ini. Karena bagus juga kan untuk publik, semuanya jadi terang benderang. Dan setiap capres-cawapres jadi bisa fokus tawarkan program, bukan malah dibuat rumit karena hal-hal seperti ini,” pungkas Sahroni. (Wan)
Topik:
