Jakarta, MI - Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat (AS) resmi menyetujui penurunan tarif resiprokal untuk produk asal Indonesia menjadi 19 persen. Tak hanya itu, sebanyak 1.819 pos tarif ekspor Indonesia kini memperoleh fasilitas bea masuk nol persen, mencakup sejumlah komoditas andalan seperti minyak sawit, kopi, dan kakao.
Kesepakatan ini merupakan bagian dari perjanjian dagang resiprokal bertajuk Toward a New Golden Age for the U.S.–Indonesia Alliance yang diteken oleh Prabowo Subianto dan Donald Trump pada Kamis (19/2/2026).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut, pemangkasan tarif tersebut merupakan hasil dari negosiasi intensif yang berlangsung sejak April 2025. Prosesnya mencakup tujuh putaran perundingan serta lebih dari sembilan pertemuan teknis.
“Hasilnya, Amerika Serikat menurunkan tarif resiprokal menjadi 19 persen terhadap Indonesia, dan untuk 1.819 pos tarif produk Indonesia dikenakan tarif nol persen,” kata Airlangga dalam konferensi pers virtual, Jumat (20/2/2026).
Sejumlah komoditas strategis mendapatkan fasilitas tarif nol persen, mulai dari minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, dan karet, hingga komponen elektronik dan pesawat terbang.
Pemerintah menilai kebijakan ini sebagai langkah memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar AS sekaligus memperluas akses pasar bagi pelaku usaha nasional.
Adapun untuk sektor tekstil dan pakaian jadi, pemberlakuan tarif nol persen dilakukan melalui skema kuota. Kebijakan tersebut diperkirakan berdampak pada sekitar empat juta tenaga kerja di sektor tersebut.
Selain itu, pemerintah AS juga mencabut sejumlah klausul non-ekonomi dalam perjanjian, termasuk isu pertahanan dan geopolitik. Dengan demikian, kerja sama difokuskan sepenuhnya pada aspek perdagangan dan investasi.
Airlangga menegaskan, prinsip utama dalam perjanjian ini adalah penghormatan terhadap kedaulatan masing-masing negara serta penciptaan kemakmuran bersama.
“Saya garis bawahi, menghormati kedaulatan masing-masing negara menjadi bagian penting dari perjanjian yang ditandatangani,” ujarnya.
Sebagai langkah lanjutan atas kesepakatan tersebut, Indonesia dan AS sepakat membentuk Council of Trade and Investment sebagai forum penyelesaian isu perdagangan dan investasi di masa mendatang.
Indonesia Terapkan Tarif Nol Persen untuk Gandum dan Kedelai AS
Di sisi lain, Indonesia juga memberikan fasilitas tarif nol persen bagi sejumlah komoditas pertanian asal AS, termasuk gandum dan kedelai. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas harga bahan pangan domestik.
Selain itu, kedua negara sepakat menghapus bea masuk atas transaksi elektronik dan memperkuat perlindungan data konsumen lintas batas.
Pemerintah pun optimistis, kombinasi penurunan tarif resiprokal dan perluasan cakupan tarif nol persen akan mendorong peningkatan ekspor Indonesia ke pasar AS secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
Kesepakatan tersebut juga diyakini memperkuat rantai pasok global, meningkatkan arus investasi, serta membuka peluang perdagangan baru di sektor strategis seperti energi, pertanian, teknologi, dan pengembangan mineral kritis.

