Rupiah Tertekan Mendekati Rp17.000 per Dolar AS, BI Lakukan Langkah Ini

Jakarta, MI - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus berada di bawah tekanan dan mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 56 poin atau 0,33% ke posisi Rp16.928 per dolar AS pada perdagangan Rabu (4/3/2026).
Menanggapi kondisi itu, Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Menurut dia, Bank sentral melakukan intervensi di pasar keuangan melalui berbagai instrumen, mulai dari transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot, hingga Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
"Selain itu, BI juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder," kata dia dalam keterangan resminya.
Destry mengatakan, langkah tersebut diambil untuk mencegah dampak konflik Timur Tengah meluas ke pasar keuangan domestik.
“Pelemahan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang regional. Secara month to date (MTD), rupiah melemah 0,51% dan relatif lebih baik dibandingkan kawasan,” ujar Destry.
Di sisi fundamental, Destry menambahkan kondisi eksternal Indonesia masih terjaga dengan baik. Cadangan devisa tercatat tetap kuat di level USD154,6 miliar pada akhir Januari 2026, sedangkan arus masuk modal asing ke pasar keuangan domestik sepanjang 2026 telah mencapai Rp25,7 triliun.
Destry menegaskan, BI akan terus berada di pasar guna memastikan stabilitas nilai tukar serta menjaga kepercayaan pelaku pasar di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Topik:
