Jakarta, MI - Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings menyesuaikan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif, dengan sejumlah catatan terkait konsistensi kebijakan dan stabilitas makroekonomi. Meski demikian, Fitch menegaskan outlook berpeluang kembali ke stabil apabila Indonesia mampu menjaga disiplin kebijakan secara konsisten.
Fitch menilai, dengan fondasi ekonomi yang kuat, disiplin fiskal yang terjaga, serta keberlanjutan reformasi struktural, Indonesia masih berada di jalur positif untuk memperkuat pertumbuhan dan ketahanan ekonomi dalam jangka menengah.
Menanggapi hal tersebut, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas makroekonomi.
"Pemerintah memastikan disiplin fiskal tetap dijalankan sesuai amanat undang-undang, sembari memperbaiki iklim usaha melalui langkah debottlenecking, deregulasi, dan percepatan investasi guna mendorong pertumbuhan ekonomi," ujar Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu, Deni Surjantoro dalam keterangan resminya, Kamis (5/3/2026).
Dia mejelaskan, berbagai indikator menunjukkan perbaikan ekonomi yang nyata. Setelah mencatat pertumbuhan tinggi sebesar 5,39% pada kuartal IV 2025, sejumlah indikator utama di awal 2026, seperti indeks kepercayaan konsumen, purchasing manager’s index (PMI), konsumsi listrik sektor bisnis dan industri, serta penjualan kendaraan, menunjukkan tren pemulihan yang berkelanjutan.
Dari sisi fiskal, kinerja juga membaik signifikan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa pendapatan negara pada awal 2026 tumbuh kuat. Pada Januari, pendapatan meningkat 9,5% secara tahunan atau year on year (yoy) dan melonjak menjadi 12,8% (yoy) pada Februari, terutama didorong oleh penerimaan pajak yang tumbuh di atas 30% (yoy) dalam dua bulan tersebut.
Sementara itu, belanja negara juga mengalami akselerasi, masing-masing tumbuh 25,7% (yoy) pada Januari dan 41,9% (yoy) pada Februari.
Dia menegaskan percepatan belanja dan stimulus ekonomi dilakukan secara terukur untuk menjaga momentum pertumbuhan, dengan tetap memastikan APBN berada dalam kondisi sehat dan disiplin fiskal tetap terjaga.
Ke depan, pemerintah memperkuat koordinasi lintas sektor guna menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi jangka menengah. Sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter terus menjadi prioritas untuk menjaga kepercayaan pasar serta memastikan program prioritas berjalan efektif dan akuntabel.
Selain itu, kolaborasi dengan Danantara terus diperkuat sebagai mesin pertumbuhan baru melalui investasi strategis di luar APBN.
"Pemerintah menegaskan tata kelola dan operasional Danantara dijaga secara kredibel dengan manajemen risiko yang terukur, agar berfungsi sebagai instrumen investasi strategis yang berkelanjutan dan selaras dengan stabilitas makrofiskal jangka Panjang," pungkas Deni.

