BREAKINGNEWS

Menko Airlangga Optimistis Ekonomi Tumbuh Lebih Tinggi di Kuartal I-2026

Reforma Agraria, Menko Airlangga Akselerasi Penyelesaian Program Pemerataan Ekonomi
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. (Foto: Dok Istimewa)

Jakarta, MI - Pemerintah menyatakan optimisme terhadap ketahanan ekonomi Indonesia meskipun dinamika geopolitik global dan ketidakpastian ekonomi dunia terus meningkat. 

Optimisme ini didukung oleh fundamental ekonomi yang kuat. Pada kuartal IV tahun 2025, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,39% secara tahunan atau year on year (yoy), menjadi salah satu pertumbuhan tertinggi di antara negara anggota G20.

Aktivitas sektor riil dan konsumsi masyarakat juga menunjukkan kinerja yang positif. Hal ini terlihat dari PMI manufaktur yang berada pada level ekspansif 53,8 pada Februari 2026, Indeks Keyakinan Konsumen yang mencapai 127 pada Januari 2026, serta pertumbuhan penjualan riil sebesar 7,9% (yoy). Indikator-indikator tersebut mencerminkan optimisme masyarakat dan dunia usaha terhadap kondisi ekonomi.

Selain tumbuh kuat, ekonomi Indonesia juga dinilai semakin berkualitas. Tingkat kemiskinan menurun menjadi 8,25%, tingkat pengangguran turun menjadi 4,74%, dan rasio Gini membaik menjadi 0,363. Ketiga indikator tersebut berada pada level terendah dalam beberapa tahun terakhir. Di sisi lain, realisasi investasi sepanjang tahun 2025 juga berhasil menyerap 2,71 juta tenaga kerja baru.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyampaikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I tahun 2026 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya. 

"Hal ini didorong oleh berbagai program stimulus pemerintah serta peningkatan belanja negara yang diharapkan mampu memperkuat konsumsi masyarakat dan mendorong aktivitas ekonomi," ujar dia dalam keterangan resminya, seperti diberitakan Jumat (6/3/2026).

Menko Airlangga juga menyoroti potensi dampak konflik global, termasuk ketegangan di kawasan Timur Tengah, yang dapat memengaruhi stabilitas energi dunia apabila jalur distribusi minyak terganggu. 

Meski demikian, kondisi fiskal Indonesia dinilai tetap terkendali dengan asumsi harga minyak dalam APBN sebesar USD70 per barel, sementara harga minyak dunia masih berada pada level yang relatif aman. Pemerintah bersama PT Pertamina (Persero) juga melakukan langkah antisipatif melalui diversifikasi sumber pasokan energi, termasuk kerja sama pengadaan minyak dengan Amerika Serikat.

Untuk tahun 2026, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4% dengan fokus pada sektor prioritas seperti pertanian, manufaktur, ekonomi digital, dan ketahanan energi. 

Berbagai program prioritas nasional juga terus didorong, antara lain program Makan Bergizi Gratis, Koperasi Merah Putih, komersialisasi Danantara, peningkatan investasi asing (FDI), serta pembangunan tiga juta rumah. Program-program ini diharapkan mampu mendorong permintaan domestik, memperluas lapangan kerja, dan meningkatkan produktivitas tenaga kerja melalui program link and match.

Pemerintah juga terus mempercepat reformasi struktural melalui deregulasi, penyederhanaan perizinan berbasis Online Single Submission (OSS), serta pembentukan satuan tugas debottlenecking untuk mengatasi hambatan investasi. Selain itu, pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan program hilirisasi industri terus diperkuat guna meningkatkan nilai tambah dan menciptakan lapangan kerja.

Di sektor keuangan, pemerintah mendorong pendalaman pasar melalui peningkatan transparansi pasar modal dan perluasan partisipasi investor institusional domestik. Peluncuran bullion bank juga menjadi langkah strategis untuk menyediakan alternatif instrumen investasi yang relatif aman di tengah volatilitas ekonomi global.

Dalam jangka pendek, pemerintah menyiapkan berbagai stimulus menjelang Idulfitri, seperti diskon transportasi, bantuan pangan bagi 35,04 juta keluarga penerima manfaat, serta penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR). Stimulus ini diharapkan dapat meningkatkan belanja masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026 hingga sekitar 5,5% (yoy).

Selain itu, pemerintah terus memperluas kerja sama ekonomi internasional melalui berbagai perjanjian perdagangan dan investasi, termasuk penyelesaian kemitraan ekonomi dengan Uni Eropa, Kanada, dan kawasan Eurasia, serta proses aksesi Indonesia ke OECD. Indonesia juga telah menandatangani Agreement on Reciprocal Tariff dengan Amerika Serikat yang memberikan struktur tarif perdagangan lebih kompetitif bagi produk Indonesia.

Menko Airlangga menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi sekitar 5% merupakan hasil sinergi antara konsumsi, investasi, ekspor, serta berbagai kebijakan pemerintah seperti program perlindungan sosial dan stimulus fiskal untuk menjaga daya beli masyarakat. 

Ke depan, pemerintah akan terus memperkuat keberlanjutan pertumbuhan melalui peningkatan rasio pajak, digitalisasi sistem perpajakan, serta investasi dalam pembangunan sumber daya manusia, termasuk melalui program Makan Bergizi Gratis.

Tak lupa, Airlangga menyatakan pentingnya implementasi sistem Coretax dalam meningkatkan penerimaan negara. Menurutnya, jika sistem tersebut berjalan optimal, tambahan penerimaan dari PPN saja diperkirakan dapat meningkat sekitar 2-3%, sehingga memperkuat fondasi ekonomi nasional di masa depan.

Topik:

Dian Ihsan

Penulis

Video Terbaru