TOBA Masih Tekor, Perlu 2-3 Tahun untuk Kembali Cetak Laba

Jakarta, MI - PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) memperkirakan membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga tahun untuk kembali mencetak laba setelah kinerjanya tertekan sepanjang tahun lalu. Tekanan tersebut terjadi seiring langkah perusahaan yang tengah bertransformasi dari bisnis batu bara menuju energi bersih dan pengelolaan limbah.
Belakangan ini, TOBA memang cukup agresif mengalihkan fokus bisnisnya. Head of Corporate Finance & Investor Relations TOBA Mirza Rinaldi Hippy menjelaskan bahwa penurunan kinerja perusahaan dipicu oleh dua faktor utama, yakni melemahnya kontribusi bisnis batu bara serta divestasi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang sebelumnya menjadi salah satu sumber pendapatan dan EBITDA perusahaan.
“Namun transformasi bisnis ini menunjukkan hasil positif, di mana kontribusi waste management terhadap revenue sudah sekitar 41% dan diharapkan dapat menggantikan revenue maupun EBITDA dari batu bara dalam 2–3 tahun ke depan,” kata Mirza di Kantor TOBA, Senin (9/3/2026).
Perusahaan menilai langkah peralihan ke bisnis pengelolaan limbah, energi terbarukan, serta infrastruktur energi bersih mulai memperlihatkan perkembangan awal yang positif.
Ke depan, TOBA menargetkan kontribusi dari segmen waste management dan lini bisnis hijau lainnya dapat secara bertahap menggantikan peran batu bara dan PLTU terhadap pendapatan maupun EBITDA perusahaan dalam beberapa tahun mendatang.
Head of Corporate Strategy TBS Energi Utama, Nafi Achmad Sentausa, mengatakan bahwa turunnya harga batu bara juga menjadi salah satu faktor yang menekan EBITDA perusahaan sepanjang tahun lalu.
Ia menjelaskan, harga batu bara acuan ICI 5 merosot hingga 73,4% sepanjang periode Januari-Desember 2025. Kondisi tersebut mendorong perseroan untuk mempercepat transformasi bisnis guna mengurangi ketergantungan terhadap komoditas batu bara.
Dari sisi kinerja keuangan, TOBA mencatat rugi bersih sebesar US$162,26 juta sepanjang 2025, berbalik dari tahun sebelumnya yang masih membukukan laba bersih US$25,35 juta pada 2024.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, pendapatan TOBA tercatat sebesar US$365,86 juta, turun 5,2% secara tahunan dibandingkan realisasi US$385,79 juta pada 2024.
Sementara itu, beban pokok pendapatan justru mengalami kenaikan sebesar 8,7% (year-on-year) menjadi US$336,17 juta, dari sebelumnya sekitar US$309,21 juta. Lonjakan biaya tersebut membuat laba bruto perseroan tergerus tajam hingga 61,2%, menjadi hanya US$29,68 juta dari US$76,57 juta pada tahun sebelumnya.
Tekanan ini berlanjut pada kinerja operasional, di mana perseroan mencatatkan rugi usaha US$44,95 juta, berbalik dari laba usaha US$47,15 juta pada 2024 atau setara dengan penurunan sekitar 195,3% secara tahunan.
Kemudian dari sisi neraca, total aset perseroan per 31 Desember 2025 tercatat US$793,09 juta, turun 11,3% dibandingkan posisi akhir 2024.
Sementara itu total liabilitas meningkat 26,4% secara tahunan menjadi US$577,77 juta, sedangkan ekuitas merosot 50,7% menjadi US$215,32 juta dari sebelumnya US$436,66 juta.
Meski demikian, posisi likuiditas perseroan menunjukkan peningkatan dengan kas dan setara kas mencapai US$85,61 juta pada akhir 2025, naik 26,2% dibandingkan posisi akhir 2024 sebesar US$67,83 juta.
Ekspansi Bisnis Hijau TOBA
Nafi menjelaskan, sejumlah lini bisnis baru seperti waste management, renewable energy, dan ekosistem kendaraan listrik memiliki karakter kontrak jangka panjang dengan arus kas yang lebih stabil dan dapat diprediksi dibandingkan bisnis berbasis komoditas.
Dalam bisnis pengelolaan limbah, TOBA saat ini menggarap lima segmen utama. Kelima segmen tersebut meliputi municipal solid waste, industrial and commercial waste, medical and toxic industrial waste, material recovery facility, hingga energy from waste, dengan operasi di Indonesia dan Singapura.
Saat ini, perusahaan mengelola sekitar 1 juta ton sampah setiap tahun dengan tingkat utilisasi fasilitas di atas 80%, yang menurut manajemen masih menyisakan ruang pertumbuhan, khususnya di Singapura.
Di sektor energi bersih, TOBA juga telah mengoperasikan pembangkit mini hidro berkapasitas 6 MW sejak awal 2025 serta tengah membangun proyek floating solar 46 MWp di Batam yang ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2026.
Pengembangan ekosistem kendaraan listrik juga menunjukkan pertumbuhan. Jumlah motor listrik yang terhubung dalam jaringan perusahaan kini mencapai sekitar 7.500 unit, meningkat dari sekitar 3.800 unit pada tahun sebelumnya. Sementara itu, jumlah stasiun penukaran baterai juga bertambah dari 282 unit menjadi 364 unit.
Topik:
