Belanja Negara Februari Melonjak, Kemenkeu Ungkap Alasannya

Jakarta, MI - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menjelaskan penyebab meningkatnya belanja negara pada Februari 2026. Lonjakan ini dinilai dipengaruhi oleh rendahnya basis perbandingan tahun sebelumnya serta strategi pemerintah yang mempercepat penyaluran belanja sejak awal tahun.
“Tahun ini memang strategi belanja kita seperti yang dijelaskan oleh Pak Menteri tadi, kita ingin membuatnya lebih rata Antara kuartal 1, kuartal 2, kuartal 3, dan kuartal 4.” ujar Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Febrio Kacaribu, Rabu (11/3/2026).
Febrio mengungkapkan, akselerasi belanja negara pada awal tahun membuat defisit di bulan Februari mencapai 0,53% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
“Itu karena memang strategi kita mengelola APBN yang memang sudah berubah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.” ucapnya.
Ia menambahkan, hal tersebut juga akan diimbangi dari sisi penerimaan yang diklaim sangat memungkinkan dengan belanja negara yang besar tersebut. Terlebih dengan pertumbuhan penerimaan pajak hingga 30%.
Dengan kondisi ini, Kemenkeu menargetkan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 tetap solid, melanjutkan momentum dari kuartal 4 2025 sebesar 5,39%.
“Jadi dengan 5,39% nanti kita harapkan ini bisa berada di 5,5% atau lebih di kuartal 1 2026. Momentum pertumbuhan ekonomi itu juga kita harapkan terus berlanjut nanti di kuartal kedua juga kita akan melakukan strategi yang sama, dimana belanja kuartal kedua itu juga biasanya tidak setinggi kuartal ketiga dan kuartal keempat.” tutur Febrio.
Febrio menyebut, percepatan penyaluran belanja negara diharapkan dapat menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sehingga target APBN 2026 sebesar 5,4% dapat tercapai.
Hingga 28 Februari 2026, realisasi belanja negara tercatat sebesar Rp493,8 triliun, tumbuh 41,9% (yoy). Belanja ini berasal dari belanja pemerintah pusat yakni Rp 346,1 triliun, serta transfer ke daerah Rp 147,7 triliun, sehingga defisit APBN pada Februari mencapai 0,53%.
Sementara itu, realisasi penerimaan negara hingga periode yang sama mencapai Rp358 triliun, tumbuh 12,8% secara tahunan (yoy). Dengan kondisi ini, defisit APBN tercatat sekitar Rp135 triliun atau 0,53% dari PDB.
Topik:
