Kinerja Tertekan, AirAsia Indonesia Catat Rugi Rp1,3 Triliun Sepanjang 2025

Jakarta, MI - Kinerja PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP) masih berada di bawah tekanan sepanjang tahun lalu. Maskapai berbiaya rendah atau low cost carrier (LCC) tersebut membukukan kerugian sebesar Rp1,3 triliun, yang turut membuat ekuitas perseroan mengalami defisiensi hingga Rp10,7 triliun.
Meski demikian, kerugian yang dialami AirAsia tercatat menyusut 15 persen dibandingkan rugi bersih pada 2024 yang mencapai Rp1,5 triliun. Tekanan terhadap kinerja perusahaan antara lain dipicu oleh pendapatan yang stagnan serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Sepanjang 2025, perseroan membukukan pendapatan Rp7,9 triliun pada 2025, turun 0,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Di sisi lain, beban usaha turun 2,4 persen menjadi Rp8,5 triliun, sehingga membuat kerugian operasional terpangkas menjadi Rp645 miliar.
Biaya bahan bakar serta perawatan dan pemeliharaan pesawat menjadi beban operasional terbesar bagi AirAsia Indonesia. Kedua komponen itu mencapai Rp5,2 triliun atau sekitar 60 persen dari total beban usaha.
Dari sisi operasional, maskapai melalui anak usahanya, PT Indonesia AirAsia, berhasil mengangkut 5,91 juta penumpang dengan tingkat keterisian kursi (load factor) mencapai 83 persen di seluruh rute penerbangannya.
Penjualan kursi menjadi sumber utama pendapatan dengan nilai Rp6,62 triliun. Sementara itu, pendapatan tambahan (ancillary revenue) seperti bagasi, pemilihan kursi, hingga layanan kargo menyumbang Rp1,25 triliun.
Kinerja operasional sepanjang 2025 juga dipengaruhi oleh penurunan kapasitas penerbangan yang bersifat sementara. Hal ini berkaitan dengan jadwal perawatan pesawat. Program perawatan tersebut berdampak pada berkurangnya jumlah kursi yang tersedia pada beberapa periode sepanjang tahun.
Di sisi lain, depresiasi kurs rupiah sekitar 3,8 persen pada 2025 turut menekan biaya operasional, mengingat sebagian besar pengeluaran maskapai menggunakan mata uang asing. Meski demikian, berbagai langkah efisiensi berhasil menurunkan Cost per Available Seat Kilometre (CASK) sebesar 1,4 persen dibandingkan 2024.
“Sepanjang tahun 2025 kami fokus memperkuat konektivitas penerbangan sekaligus menjaga efisiensi operasional. Upaya tersebut memungkinkan Indonesia AirAsia menurunkan kerugian di tengah tantangan industri penerbangan yang masih menghadapi tekanan biaya operasional,” tutur Direktur Utama AirAsia Indonesia, Capt. Achmad Sadikin Abdurachman melalui keterangan resmi, dikutip Senin (16/3/2026).
Sepanjang tahun lalu, AirAsia memperluas jaringan penerbangan dengan membuka sejumlah rute internasional seperti Bali–Darwin, Bali–Adelaide, serta Surabaya–Don Mueang (Bangkok), dan rute domestik antara lain Jakarta–Manado, Surabaya–Balikpapan, Balikpapan–Tarakan, dan Balikpapan–Berau
Memasuki 2026, perseroan menambah rute baru menuju Melbourne (Australia) dan Da Nang (Vietnam) dari Bali. Di dalam negeri, jaringan penerbangan juga diperluas dengan menghubungkan Surabaya, Makassar, Palu, Luwuk, dan Kendari, dengan Makassar diposisikan sebagai virtual hub untuk memperkuat konektivitas di Indonesia Timur.
Topik:
