Bursa Global Berpotensi Tertekan, IHSG Dibayangi Gejolak Minyak dan Ketegangan Selat Hormuz

Jakarta, MI - Pergerakan pasar saham global diperkirakan masih diliputi tekanan pada awal pekan ini, seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan lonjakan harga energi dunia.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah mengatakan, kondisi pergerakan pasar saham global juga berpotensi memengaruhi arah pergerakan pasar saham domestik.
Indeks utama di S&P 500, Dow Jones Industrial Average, dan Nasdaq Composite diperkirakan masih bergerak di zona tertekan. Hal ini tercermin dari kontrak futures indeks saham Amerika Serikat yang masih melemah, mengindikasikan potensi tekanan jual pada awal pekan perdagangan.
Sentimen negatif terutama dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia, khususnya minyak West Texas Intermediate, setelah Iran tetap menutup jalur pelayaran strategis Strait of Hormuz sejak akhir Februari. Selat tersebut merupakan salah satu jalur utama distribusi minyak global.
Ketegangan meningkat setelah pemimpin baru Iran menyatakan bahwa penutupan selat tersebut digunakan sebagai instrumen tekanan terhadap negara-negara lawan. Pernyataan ini menimbulkan kekhawatiran pasar mengenai potensi gangguan pasokan energi global yang dapat memicu lonjakan inflasi.
Namun, terdapat perkembangan terbaru yang memberi sedikit ruang optimisme. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka bagi kapal-kapal yang tidak berasal dari Amerika Serikat, Israel, maupun sekutunya.
Meski demikian, dia menilai ketidakpastian geopolitik tersebut membuat investor global cenderung mengambil sikap risk-off dalam jangka pendek.
"Akibatnya, volatilitas di pasar saham global diperkirakan masih tinggi hingga situasi pasokan energi dan stabilitas geopolitik menunjukkan tanda-tanda mereda," kata dia dalam keterangan resminya, Senin (16/3/2026).
Sentimen Domestik Ikut Terpengaruh
Di dalam negeri, pergerakan pasar saham juga diperkirakan akan dipengaruhi oleh dinamika fiskal serta arah kebijakan moneter. Lonjakan harga komoditas energi seperti minyak dan batu bara berpotensi menambah tekanan terhadap fiskal pemerintah.
"Jika defisit anggaran melebar, sejumlah risiko dapat muncul, antara lain meningkatnya kebutuhan pembiayaan utang pemerintah, tekanan terhadap imbal hasil obligasi negara, hingga potensi pelemahan nilai tukar rupiah akibat meningkatnya persepsi risiko investor," jelas dia.
Selain itu, pelebaran defisit fiskal juga dapat mempersempit ruang pemerintah untuk memberikan stimulus ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Pelaku pasar juga akan mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada pekan depan.
"Secara konsensus, bank sentral diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate guna menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi di tengah tekanan eksternal," ucap dia.
Kombinasi dinamika fiskal, arah kebijakan moneter, serta ketegangan geopolitik global diperkirakan akan menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam jangka pendek.
Adapun pada pekan ini perdagangan di pasar saham domestik hanya berlangsung dua hari, yakni 16–17 Maret 2026, sebelum memasuki libur panjang Hari Raya Nyepi dan Idulfitri.
"Situasi tersebut diperkirakan membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dalam mengambil posisi investasi," pungkas dia.
Topik:
