BREAKINGNEWS

Ketegangan Timur Tengah Tekan Rupiah, Nyaris Sentuh Rp17.000 per Dolar AS

Uang Rupiah
Nilai tukar rupiah melemah pada Senin (16/3/2026) (Foto: Ist)

Jakarta, MI - Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Senin (16/3/2026). Mata uang Garuda melemah mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS), seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Dikutip dari Money, rupiah tercatat terkoreksi 40 poin atau 0,24 persen hingga berada di posisi Rp16.998 per dolar AS.

Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan, pelemahan rupiah dipicu oleh memanasnya konflik di sekitar Selat Hormuz, jalur penting perdagangan minyak dunia. Ketegangan yang melibatkan Iran, AS dan Israel mendorong investor untuk mencari aset yang lebih aman (safe haven) seperti dollar AS.

"Hari ini rupiah ditutup melemah mendekati Rp 17.000 per dollar AS. Sebelumnya sempat menyentuh Rp 17.006, dan akhirnya ditutup di Rp 16.998," ujar Ibrahim.

Ketegangan kian memanas setelah muncul laporan bahwa pasukan Amerika Serikat semakin mendekati wilayah Selat Hormuz, serta serangan timbal balik yang terus berlanjut antara Iran dan Israel.

Situasi semakin rumit karena sejumlah wilayah yang menjadi lokasi pangkalan militer United States di kawasan tersebut dilaporkan ikut menjadi sasaran serangan. Beberapa di antaranya berada di Iraq dan United Arab Emirates.

Di tengah meningkatnya ketegangan, harga minyak dunia terus mengalami kenaikan. Meskipun ada rencana pelepasan cadangan minyak oleh Badan Energi Internasional (IEA) dan Rusia, langkah ini dinilai belum cukup untuk menahan lonjakan harga. Bahkan, diperkirakan harga minyak berpotensi naik tajam ke posisi 130 dollar AS per barrel.

"Walaupun kita melihat IEA akan menggelontorkan minyak sebesar 400 juta barrel. Kemudian Rusia pun juga akan menggelontorkan minyak mentah di pasar, tapi ini pun juga tidak bisa membuat harga minyak mentah dunia turun, artinya apa? Bahwa masih ada kemungkinan harga minyak ini akan melambung ke 130 dollar AS (per barrel)," ungkap Ibrahim.

Lonjakan harga energi ini turut memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi global.  Pasar kini menunggu hasil pertemuan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) pada pekan depan untuk menentukan arah kebijakan suku bunga.

Ibrahim mengatakan bahwa kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi, sehingga membuka peluang bagi The Fed untuk mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga.

Sementara dari dalam negeri, kenaikan harga minyak juga berpotensi menambah tekanan terhadap APBN. Sejumlah ekonom menilai defisit anggaran sebaiknya tetap dijaga di sekitar 3 persen, di tengah upaya pemerintah menjalankan berbagai program prioritas, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membutuhkan tambahan belanja negara.

Perdebatan mengenai arah kebijakan fiskal ini turut mempengaruhi  persepsi investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia, yang pada akhirnya berdampak pada pergerakan nilai tukar rupiah.

Ibrahim memperkirakan, untuk perdagangan Selasa (17/3/2026), rupiah masih berpotensi bergerak melemah dengan kisaran Rp16.990 hingga Rp17.050 per dolar AS.

Topik:

Rolia Pakpahan

Penulis

Video Terbaru