IPCC Catat Laba Rp256,5 Miliar di 2025, Melonjak 20,8%

Jakarta, MI - PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) yang merupakan bagian dari ekosistem Pelindo Group mencatat kinerja keuangan yang sangat kuat sepanjang tahun 2025.
Berdasarkan laporan keuangan audited, perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp256,51 miliar, menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah sekaligus melampaui level psikologis Rp250 miliar.
Capaian ini tumbuh 20,87 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp212,21 miliar. Peningkatan tersebut mencerminkan fundamental bisnis yang semakin solid, serta keberhasilan perusahaan dalam menjaga pertumbuhan di tengah dinamika industri logistik.
Direktur Utama IPCC Sugeng Mulyadi menyampaikan pencapaian ini merupakan hasil dukungan berbagai pihak, mulai dari pengguna jasa, mitra kerja, hingga pemegang saham. Tingkat kepuasan pelanggan pun tercatat sangat tinggi dengan skor 4,82 dari skala 5.
"Ke depan, IPCC berkomitmen melanjutkan ekspansi bisnis, baik secara organik maupun anorganik, serta memperkuat digitalisasi dan integrasi layanan untuk menjawab kebutuhan industri logistik otomotif yang terus berkembang," kata dia dalam keterangan resminya, Kamis (26/3/2026).
Dari sisi pendapatan, IPCC juga mencatat pertumbuhan yang konsisten. Sepanjang 2025, pendapatan mencapai Rp929,96 miliar, naik 12,77 persen dibandingkan Rp824,60 miliar pada tahun sebelumnya.
Kontribusi terbesar masih berasal dari Terminal Tanjung Priok yang menyumbang sekitar 91 persen dari total pendapatan, sementara sisanya berasal dari terminal satelit di berbagai wilayah strategis Indonesia.
Secara bisnis, segmen kendaraan utuh atau Completely Built Up (CBU) menjadi tulang punggung dengan kontribusi Rp697,66 miliar. Segmen alat berat menyumbang Rp82,67 miliar, disusul truk dan bus sebesar Rp77,31 miliar. Struktur ini menunjukkan posisi kuat IPCC sebagai pemain utama dalam rantai logistik otomotif nasional.
Salah satu pendorong pertumbuhan yang cukup menonjol adalah meningkatnya tren kendaraan listrik. Sepanjang 2025, IPCC melayani lebih dari 101 ribu unit kendaraan listrik, dengan dominasi merek asal Tiongkok.
"Hal ini menegaskan kesiapan perusahaan dalam menangkap peluang dari transisi menuju industri yang lebih ramah lingkungan," kata Sugeng Mulyadi.
Dari sisi operasional, IPCC terus melakukan transformasi melalui digitalisasi dan inovasi layanan. Perseroan telah menerapkan sistem single billing secara penuh serta meluncurkan layanan In-Land Transportation sebagai bagian dari strategi “Integrated Auto Solutions” untuk memperkuat posisinya sebagai penyedia layanan logistik kendaraan terintegrasi.
Kinerja keuangan yang kuat juga tercermin dari neraca perusahaan. Total aset IPCC meningkat menjadi Rp2,05 triliun dari sebelumnya Rp1,85 triliun, didorong oleh kenaikan kas dan setara kas yang signifikan.
Menariknya, IPCC juga berada dalam kondisi tanpa utang (debt free), sehingga memiliki fleksibilitas lebih dalam pengelolaan keuangan.
Topik:
