BREAKINGNEWS

Mobilitas Menurun, Kinerja Transportasi RI Melambat pada Februari 2026

Mobilitas Menurun, Kinerja Transportasi RI Melambat pada Februari 2026
Angkutan Barang Menggunakan Moda Kereta Api (KA) (Foto: Dok MI)

Jakarta, MI - Kinerja sektor transportasi nasional pada Februari 2026 menunjukkan perlambatan di hampir seluruh moda. Jumlah penumpang maupun angkutan barang tercatat menurun dibandingkan bulan sebelumnya. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan paling terasa terjadi pada angkutan udara dan kereta api, sementara angkutan laut relatif lebih stabil, terutama pada pengangkutan barang.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa pelemahan tersebut berkaitan dengan pola musiman setelah berakhirnya periode libur panjang serta adanya penyesuaian aktivitas ekonomi di awal tahun.

“Secara umum terjadi penurunan mobilitas pada Februari dibandingkan bulan sebelumnya, yang berdampak pada hampir seluruh moda transportasi,” katanya dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (1/4/2026).

Penurunan paling tajam terjadi pada angkutan udara domestik. Jumlah penumpang turun 17,05% secara bulanan (month to month) menjadi 4,1 juta orang. Tren serupa juga terjadi pada penerbangan internasional, yang turun 15,24% menjadi 1,5 juta penumpang.

Tak hanya penumpang, angkutan barang udara domestik ikut terkontraksi 3,13% menjadi 49,5 ribu ton.

Pada Januari-Februari 2026, jumlah penumpang pesawat domestik tercatat 9 juta orang atau turun 5,09%. Penumpang internasional juga turun tipis 0,95% menjadi 3,3 juta orang. Penurunan lebih dalam terjadi pada angkutan barang udara yang merosot 10,66% menjadi 100,6 ribu ton. 

Berbeda dengan moda udara, angkutan laut justru menunjukkan ketahanan pada segmen logistik.

Meski jumlah penumpang laut menurun 9,86% menjadi 2 juta orang, volume pengangkutan barang meningkat 3,36% hingga mencapai 38,8 juta ton.

“Ini menunjukkan aktivitas distribusi barang melalui laut masih cukup kuat, meskipun mobilitas penumpang menurun,” ucap Ateng. 

Namun, jika dilihat secara kumulatif, kinerja angkutan laut masih mencatat kontraksi tipis pada angkutan barang sebesar 1,39% menjadi 76,3 juta ton. Sementara itu, jumlah penumpang turun 8,05% menjadi 4,3 juta orang.

Tekanan juga terjadi pada sektor kereta api. Pada Februari 2026, jumlah penumpang kereta api turun 10,05% menjadi 43,3 juta orang, sementara angkutan barang anjlok 17,70% menjadi 4,4 juta ton. Meski demikian, secara kumulatif selama dua bulan pertama, jumlah penumpang kereta api masih tumbuh 7% menjadi 91,4 juta orang.

Sebaliknya, angkutan barang melalui kereta api mengalami penurunan 13,65% hingga tercatat 9,7 juta ton.

Kemudian, moda angkutan sungai, danau, dan penyeberangan (ASDP) mencatat penurunan penumpang paling besar secara persentase. Jumlah penumpangnya turun 18,17% menjadi 3,5 juta orang.

Segmen transportasi ini pada Januari-Februari 2026 tercatat turun 1,41%. Menurut Ateng, kondisi pada Februari mencerminkan fase normalisasi setelah tingginya mobilitas pada periode akhir tahun dan awal Januari. 

Selain faktor musiman, pergerakan penumpang dan distribusi barang juga dipengaruhi oleh dinamika harga dan aktivitas ekonomi.

Ia menambahkan, kinerja sektor transportasi ke depan sangat bergantung pada momentum musiman selanjutnya, termasuk periode libur dan aktivitas ekonomi domestik. Dengan pola tersebut, sektor transportasi diperkirakan kembali menguat pada masa puncak perjalanan seiring meningkatnya mobilitas masyarakat dan distribusi logistik nasional.

Topik:

Rolia Pakpahan

Penulis

Video Terbaru