Jakarta, MI - Posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia pada akhir Maret 2026 tercatat sebesar USD148,2 miliar, turun dari posisi USD151,9 miliar per Februari 2026.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Ramdan Denny Prakoso mengaku posisi cadev di level ini masih tergolong tinggi dan aman. Penurunan cadev tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor, seperti penerbitan obligasi global (global bond) pemerintah serta penerimaan dari pajak dan jasa.
"Di sisi lain, pemerintah juga melakukan pembayaran utang luar negeri, sementara BI menjalankan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global," kata Ramdan dalam keterangan resminya, Rabu (8/4/2026).
Dia menjelaskan, langkah stabilisasi ini penting untuk menjaga pergerakan rupiah agar tetap terkendali di tengah tekanan eksternal.
Secara kemampuan, cadangan devisa Indonesia saat ini setara dengan pembiayaan 6 bulan impor, atau 5,8 bulan impor ditambah pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka ini jauh di atas standar internasional yang umumnya sekitar 3 bulan impor.
Dia menilai posisi cadangan devisa tersebut masih sangat memadai untuk menjaga ketahanan sektor eksternal, sekaligus mendukung stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional.
Ke depan, Bank Indonesia optimistis ketahanan eksternal Indonesia tetap terjaga.
Hal ini didukung oleh cadangan devisa yang kuat serta potensi masuknya aliran modal asing, seiring dengan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia dan imbal hasil investasi yang dinilai menarik.
"BI juga akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah guna menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan," pungkas dia.

