BREAKINGNEWS

Rupiah Melemah ke Level Terendah Sepanjang Masa, Investor Khawatir

Rupiah Melemah ke Level Terendah Sepanjang Masa, Investor Khawatir
Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada Kamis (9/4/2026) (Foto: Ist)

Jakarta, MI - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada penutupan perdagangan Kamis (9/4/2026). Naiknya harga minyak dunia kembali memicu kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Indonesia.

Di pasar spot, rupiah ditutup melemah 0,44% ke Rp17.085/US$. Pelemahan ini juga membuat rupiah menjadi mata uang terlemah di kawasan Asia pada perdagangan hari ini.

Level Rp17.085/US$ tersebut sekaligus menjadi posisi penutupan terlemah rupiah sepanjang sejarah sejak Indonesia merdeka.

Sementara itu, indeks dolar AS cenderung stagnan dengan kenaikan tipis 0,04% ke level 99,09. Meski begitu, mayoritas mata uang Asia hari ini bergerak melemah lantaran harga minyak mentah kembali rebound. 

Setelah rupiah, pelemahan juga dialami sejumlah mata uang Asia lainnya. Rupee India tercatat turun 0,31%, diikuti yen Jepang dengan pelemahan 0,31%, lalu ringgit Malaysia 0,27%, won Korea Selatan 0,26%. 

Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent naik 3,36% ke US$97,93 per barel, sementara WTI naik 3,18% ke US$97,41 per barel.

Kenaikan harga minyak ini turut memicu kekhawatiran pasar, terutama karena kebijakan pemerintah yang dinilai populis di tengah tekanan tersebut.

Pemerintah memutuskan untuk tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Selain itu, langkah efisiensi juga dinilai masih terbatas. Di saat yang sama, belanja negara tetap digelontorkan secara ekspansif, khususnya untuk mendukung berbagai program prioritas.

Di sisi lain, cadangan devisa yang jadi bantalan stabilitas tercatat menurun selama tiga bulan beruntun sejak Januari 2026. 

Cadangan devisa RI tercatat sebesar US$156,47 miliar pada Desember 2025, namun mengalami penurunan menjadi US$154,58 miliar pada Januari 2026, atau turun sekitar US$1,89 miliar.

Tren penurunan berlanjut pada Februari, dengan cadangan devisa menyusut US$2,68 miliar menjadi US$151,9 miliar. Pada Maret, cadangan devisa berlanjut menyusut US$3,7 miliar dibandingkan bulan sebelumnya menjadi US$148,2 miliar.

Pelemahan cadangan devisa pada Maret terlihat semakin tajam dan cepat, terdorong oleh tekanan eksternal yang terus berlanjut. Rupiah juga sempat tertekan hingga Rp16.995/US$, hampir menembus batas psikologis Rp17.000.

Selain itu, pasar bersiap menghadapi potensi volatilitas baru. Pada bulan depan, MSCI dijadwalkan meninjau ulang status klasifikasi pasar saham Indonesia, yang bisa menambah sensitivitas arus modal asing dalam jangka pendek.

Topik:

Rolia Pakpahan

Penulis

Video Terbaru