Jakarta, MI - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia memastikan pengiriman minyak mentah dari Amerika Serikat (AS) ke Indonesia mulai berjalan. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat cadangan energi nasional sekaligus memenuhi kebutuhan bahan baku kilang dalam negeri.
Bahlil menegaskan, kerja sama dengan AS hanya untuk pasokan minyak mentah (crude oil), bukan impor BBM jadi.
"Dari Amerika sudah mulai berjalan. Untuk BBM tidak, kita tidak ambil BBM jadi dari sana, yang kita ambil minyak mentahnya," kata Bahlil di Jakarta, Jumat (10/4/2026).
Meski belum merinci volume impor, Bahlil menyebut tambahan pasokan ini menjadi bagian dari strategi pemerintah menjaga kestabilan stok energi di tengah gejolak global.
Saat ini, stok BBM nasional disebut aman dengan ketahanan lebih dari 20 hari. Sementara stok LPG berada di atas 10 hari.
Menurut Bahlil, pemerintah terus mencari sumber pasokan energi yang paling efisien agar kebutuhan nasional tetap terjaga.
Bahlil juga mengungkapkan, sekitar 20 persen impor minyak mentah Indonesia selama ini berasal dari kawasan Teluk Arab yang melewati Selat Hormuz. Karena itu, diversifikasi pasokan menjadi langkah penting.
Selain dari AS, Indonesia juga memperluas sumber impor dari negara lain seperti Angola dan Nigeria. Bahlil menilai, masa paling krusial terkait gejolak energi global kini mulai terlewati.
Pemerintah juga menyiapkan peluncuran program B50 pada 1 Juli mendatang.
"Kebijakan ini diharapkan bisa mengurangi ketergantungan pada minyak impor dan memperkuat ketahanan energi nasional," pungkas dia.

