Jakarta, MI - Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives turun tajam pada Jumat (10/4/2026). Secara mingguan, harga merosot lebih dari 4%, sekaligus mengakhiri tren kenaikan yang sebelumnya berlangsung selama lima pekan berturut-turut. Pelemahan ini dipicu oleh meningkatnya produksi sawit pada Maret di Malaysia.
Berdasarkan data penutupan perdagangan, kontrak berjangka CPO untuk April 2026 turun 80 Ringgit Malaysia ke level 4.491 Ringgit Malaysia per ton. Sementara kontrak Mei 2026 melemah lebih dalam, turun 110 Ringgit Malaysia menjadi 4.500 Ringgit Malaysia per ton.
Penurunan juga terjadi pada kontrak Juni 2026 yang terkoreksi 105 Ringgit Malaysia ke posisi 4.538 Ringgit Malaysia per ton. Adapun kontrak Juli 2026 ikut tertekan, turun 101 Ringgit Malaysia menjadi 4.551 Ringgit Malaysia per ton.
Kontrak berjangka CPO Agustus 2026 tercatat turun 96 Ringgit Malaysia menjadi 4.539 Ringgit Malaysia per ton. Sedangkan Kontrak berjangka CPO September 2026 terpangkas 93 Ringgit Malaysia menjadi 4.520 Ringgit Malaysia per ton.
Mengacu pada data dari TradingView, harga CPO secara mingguan terkoreksi lebih dari 4%, sekaligus menghentikan tren penguatan selama lima pekan. Hal ini terjadi setelah data bulanan Malaysian Palm Oil Board menunjukkan produksi Maret naik 7,21% secara bulanan menjadi 1,38 juta ton.
Meski demikian, tekanan harga tidak terlalu dalam karena stok minyak sawit justru turun 16,14% menjadi 2,27 juta ton, sementara ekspor melonjak 40,69% hingga mencapai 1,55 juta ton.
Di sisi lain, pasar minyak nabati global menunjukkan penguatan, seiring naiknya kontrak di Dalian dan Chicago, mencerminkan harapan meredanya ketegangan geopolitik di Iran.
Permintaan dari India sebagai pembeli utama juga diperkirakan meningkat, seiring potensi restocking menjelang lonjakan kebutuhan musiman. Hal ini terjadi setelah impor turun 19% ke level terendah dalam tiga bulan pada Maret.
Sementara itu, Indonesia sebagai produsen terbesar dunia telah menerbitkan aturan terkait jadwal implementasi mandatori biodiesel. Pelaku pasar kini menantikan data terbaru pengapalan dari lembaga survei kargo yang akan dirilis untuk melihat arah pergerakan pasar selanjutnya.

